Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

0 Anak Cerdas, Tidur 11 Jam

Anak 
Cerdas , Tidur 11 Jam
Hasil riset terbaru para ahli di Amerika Serikat menunjukkan, pola tidur yang teratur membuat anak-anak lebih cerdas. Dibandingkan anak yang tidurnya tidak teratur, mereka yang istirahatnya selalu terjadwal memiliki kemampuan bahasa, membaca dan matematika yang lebih baik di sekolah.

Ini adalah hasil penelitian independen para ahli di SRI International yang melibatkan 8.000 anak berusia 4 tahun. Salah satu kesimpulan yang dipaparkan dalam pertemuan Associated Professional Sleep Societies itu juga menyebutkan, anak-anak rata-rata tidurnya kurang dari 11 jam setiap hari menunjukkan kemampuan yang kurang baik.

Dalam riset itu, peneliti menganalisis informasi tentang tidur anak-anak melalui wawancara dengan orang tua. Informasi ini dikumpulkan saat anak-anak berusia 9 bulan dan diulang saat mereka menginjak usia empat tahun.

Pimpinan riset Dr Erika Gaylor menyatakan, data riset juga mengungkapkan banyak anak di AS yang tidak memenuhi kebutuhan tidurnya. Alhasil, anak-anak ini mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan sulit mencapai prestasi di sekolah.

Ia merekomendasikan para orang tua untuk mengatur jadwal tidur yang tepat sehingga anak-anak dapat mencapai kualitas tidur yang sehat. Orang tua juga harus meluangkan waktu berinteraksi dengan anak di tempat tidur secara rutin seperti membacakan buku atau mendongeng.

0 Ketika Anak Menonton Televisi

Pikiran Orangtua:  
Malu, mau marah dan jantung rasanya mau copot ketika tiba-tiba mendengar Edu berteriak "bajingan kau!!!". Entah belajar darimana, tapi rasanya kok sebagai orangtua tidak pernah mengatakan hal-hal kasar seperti itu, pembantu di rumah juga tidak ada yang bicara seperti itu, Wah jangan-jangan dari anak tetangga sebelah rumah. Aaaaaah ternyata Edu mendengarnya di televisi. Di televisi? Bukankah program tayangan Teletubbies kesayangan Edu tidak ada bahasa kasar seperti itu? Ooooooh ternyata Edu juga suka menonton telenovela bersama nenek. Aduh.... kan tidak mungkin melarang nenek menonton telenovela, jadi yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana caranya supaya Edu tidak ikutan menonton telenovela bersama nenek dan hanya menonton acara anak-anak saja.
 
Pikiran Anak:
Aduh, Mama/Papa marah nih, gara-gara Edu tadi bilang "bajingan kau!!!". Padahal kan Edu lihat ada om jagoan ganteng di televisi bilang begitu, Edu cuman meniru saja kok. Memangnya "bajingan kau" itu apa sih? Kata mama, itu kata-kata kasar, memangnya kata-kata kasar itu apa sih? Edu kan ingin seperti om jagoan ganteng di televisi itu, banyak yang suka, banyak yang sayang, nenek dan mbak saja tiap hari harus lihat om itu, mama juga kalau di rumah lihat om itu. Tapi, Edu jadi bingung sama Mama dan Papa, kalau Edu hafal cerita-cerita film yang ada di televisi, Mama dan Papa bangga. Mama dan Papa sering bilang sama om dan tante Edu: "wah Edu pintar loh, dia bisa hafal semua cerita-cerita film televisi".  Kalau Edu hafal iklan-iklan di televisi Mama dan Papa juga bangga, katanya Edu pintar, terus kalau Edu lagi menirukan iklan televisi katanya Edu lucu dan menggemaskan. Tapi kalau Edu nonton televisi terus-terusan, Mama dan Papa marah, katanya Edu malas. Padahal kalau nggak nonton kan nggak bisa hafal film dan iklan yang di televisi. Aduuuuuuh Edu jadi bingung.
Sebagai orangtua, pernahkah anda mengalami situasi seperti di atas? Kadang-kadang marah karena anak menirukan adegan di televisi, tetapi seringkali juga memuji dan bangga kalau anak hafal dengan cerita-cerita atau iklan-iklan yang ada di televisi. Kalau dilihat sepintas sepertinya ada standard ganda di sini, walaupun sebenarnya tidak. Sebagai orangtua kita sudah tahu dengan pasti mana yang pantas dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga kita bisa menetapkan mana program yang boleh ditonton dan ditiru dan mana yang tidak. Orangtua juga tahu kapan menonton televisi, kapan waktu belajar. Tetapi apakah anak sudah tahu dengan pasti mengenai hal baik dan buruk tersebut, apakah anak sudah mengetahui program televisi mana saja yang diperbolehkan untuk ditonton dan apakah anak sudah menyadari benar-benar mengenai pembagian waktu? Anak mungkin bingung dan tidak mengerti, ditambah lagi kalau standard yang ditetapkan oleh orangtua berbeda dengan yang ditetapkan oleh pengasuh (termasuk dalam pengasuh adalah suster, kakek-nenek dan om-tante yang ikut serta dalam pengasuhan sehari-hari). Nah,  pertanyaan kita kemudian adalah bagaimana orangtua menyikapi anak dalam menonton televisi?
Darimana Anak Meniru Adegan Kekerasan?
Televisi, si kotak ajaib yang keberadaanya sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari, seringkali menimbulkan kecemasan bagi orangtua yang anaknya masih kecil. Cemas kalau anak jadi malas belajar karena kebanyakan nonton televisi, cemas kalau anak meniru kata-kata dan adegan-adegan tertentu, cemas mata anak jadi rusak (minus), dan cemas anak menjadi lebih agresif karena terpengaruh banyaknya adegan kekerasan di televisi. Namun demikian harus diakui bahwa kebutuhan untuk mendapatkan hiburan, pengetahuan dan informasi secara mudah melalui televisi juga tidak dapat dihindarkan. Televisi, selain selalu tersedia dan amat mudah diakses, juga menyuguhkan banyak sekali pilihan, ada sederet acara dari tiap stasiun televisi, tinggal bagaimana pemirsa memilih acara yang dibutuhkan, disukai dan sesuai dengan selera. Sehingga walaupun semua orang mungkin sudah tahu akan dampak  negatif yang bisa ditimbulkannya, keberadaan televisi tetap saja dipertahankan. 
Kecemasan orangtua terhadap dampak menonton televisi bagi anak-anak memang sangat beralasan, mengingat bahwa banyak penelitian menunjukkan televisi memang memiliki banyak pengaruh baik negatif maupun positif. Misalnya penelitian yang dilakukan Liebert dan Baron, menunjukkan hasil: anak yang menonton program televisi yang menampilkan adegan kekerasan memiliki keinginan lebih untuk berbuat kekerasan terhadap anak lain, dibandingkan dengan anak yang menonton program netral (tidak mengandung unsur kekerasan).
Dalam benak banyak orang dewasa, film-film kartun dan film-film robot dianggap merupakan film anak-anak dan cocok dikonsumsi oleh mereka karena format penyajiannya disesuaikan dengan perkembangan anak-anak. Benarkah demikian? Jawabnya tidak semua film-film tersebut cocok dikonsumsi anak-anak. Contohnya Bart Simpson dan Crayon Sinchan yang cukup populer di Indonesia, sebenarnya tidak cocok untuk anak-anak, karena bercerita dalam bahasa yang kasar dan tingkah laku urakan. Tetapi  diawal kemunculannya, orangtua membiarkan kedua film tersebut ditonton oleh anak-anak karena format penyajian dan jam tayangnya yang pas dengan waktu anak menonton televisi. Setelah berjalan beberapa lama barulah orangtua menyadari kalau tontonan tersebut tidak cocok dan ramai-ramai mengajukan protes kepada stasiun televisi.  Akhirnya kemudian film tersebut diberi keterangan bukan untuk konsumsi anak-anak. 
Kalau mau lebih teliti, sebenarnya banyak film "anak-anak" yang justru menampilkan adegan kekerasan dan kata-kata yang kasar (meski tidak sekasar film dewasa sih), walaupun banyak juga terdapat adegan-adegan kebaikan (karena biasanya film-film tersebut bercerita tentang pertentangan antara kebaikan dan kejahatan). Contoh film-film yang memiliki kedua unsur tersebut adalah film Popeye the Sailor Man, Batman & Robin, Power Puff Girls, Power Ranger dan Saras 008. Film-film ini sangat populer di dalam dunia anak-anak kita sehingga seringkali menjadi model yang ditiru oleh anak-anak. Meskipun mengandung adegan kekerasan, namun film-film ini sepertinya tidak menimbulkan kecemasan bagi orangtua, karena para orangtua sampai sekarang  merasa aman meninggalkan anak-anak ketika menonton film-film ini. Sementara itu kalau ada film dewasa, baik yang menampilkan adegan kekerasan maupun tidak, anak-anak seringkali tidak diperbolehkan menonton. Hal ini sudah menunjukkan standard ganda yang diberikan orangtua kepada anak. Adegan kekerasan dalam film dewasa tidak boleh ditonton, tetapi adegan kekerasan dalam film anak-anak boleh ditonton, jadi kekerasan boleh atau tidak?  Lalu apakah tidak ada kemungkinan bahwa anak justru dapat juga meniru adegan kekerasan atau kata-kata kasar yang ada dalam film-film tersebut karena mereka melihat bahwa orangtua membiarkan mereka menonton film tersebut dengan bebas? 
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua?
Mengingat bahwa sangatlah sulit (bahkan tidak mungkin) bagi orangtua untuk menjauhkan anak dari televisi, maka ada baiknya orangtua melakukan beberapa hal sebagai berikut:  
1.  Dampingi anak ketika menonton dan beri penjelasan 
Sebenarnya daripada orangtua tiba-tiba mengomel ataupun memuji anak, hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah memberi pengertian dan mendampingi anak ketika menonton televisi. Jika anak bertanya jawablah pertanyaan tersebut dengan rinci dan sesuai dengan perkembangan anak. Banyak hal yang belum diketahui oleh seorang anak, oleh karena itu kalau tidak ada yang memberi tahu ia akan mencari sendiri dengan mencoba-coba dan meniru dari orang dewasa. Apakah hasil percobaan maupun peniruannya benar atau salah, anak mungkin tidak tahu. Di sinilah tugas orangtua untuk selalu memberi pengertian kepada anak, secara konsisten. Kebingungan anak karena standar ganda yang diterapkan orangtua juga bisa teratasi kalau orangtua memberi penjelasan kepada anak.
2.  Buat jadwal kegiatan anak 
Anak juga perlu diajarkan bahwa ada waktu tersendiri untuk setiap kegiatan-kegiatannya. Atur waktu yang jelas, kapan menonton televisi, kapan belajar dan kapan bermain. Walaupun anak sudah relaks dengan menonton televisi, anak tetap butuh waktu untuk bermain. Televisi mengkondisikan anak menjadi pasif, hanya menerima dan menyerap informasi dengan posisi tubuh yang juga pasif (cukup dengan duduk), karena itu anak tetap perlu waktu untuk bermain (terutama bermain dengan anak-anak lain) supaya  mereka tetap aktif dan mampu bersosialisasi. Mereka tetap butuh waktu untuk berlari-larian, mengobrol dengan teman-teman dan bermain dengan mainan. Pengaturan waktu bisa mengkondisikan anak untuk selalu menonton televisi dengan didampingi orangtua.
3.  Seleksi program tayangan televisi yang cocok untuk anak
Kalaupun tidak sempat mendampingi anak, orangtua sebaiknya menyeleksi program televisi mana yang benar-benar cocok untuk anak. Sebelum anak diijinkan untuk menonton program televisi tertentu, orangtua sudah mengetahui program tersebut cocok atau tidak untuk anak, jadi orangtua sudah pernah terlebih dulu menonton program tersebut dan melakukan evaluasi. Jangan sampai terjadi lagi kasus Crayon Sinchan. Untuk melakukan hal ini tentu saja dibutuhkan kesabaran dan pengorbanan dari orangtua, untuk sementara orangtua harus mengorbankan kesenangannya sendiri menonton televisi demi mencari-cari dan menyeleksi program televisi yang cocok untuk anak tercinta.
3.  Bangun kerjasama dengan seluruh anggota keluarga
Bangunlah kerjasama dengan seluruh anggota keluarga, karena kerja sama dari seluruh anggota keluarga (termasuk pengasuh) sangat diperlukan. Pastikan bahwa seluruh keluarga memiliki pengertian yang sama mengenai anak dan masalah televisi tersebut. Berikan pengertian kepada anggota keluarga bahwa bagaimanapun juga mereka kadang-kadang  harus mengorbankan kesenangan mereka demi kebaikan sang anak. Jangan sampai standard yang sudah diterapkan orangtua terhadap anak, ternyata tidak diterapkan oleh anggota keluarga lainnya  ketika orangtua tidak ada ditempat.
4.  Konsisten dalam bertindak
Orangtua dan pengasuh perlu untuk selalu bertindak secara konsisten dan tidak bosan-bosannya dalam memberikan pengertian kepada anak, sehingga anak tahu dengan jelas mana yang boleh mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk. Oke.....semoga bermanfaat. (http://www.e-psikologi.com)

0 Mengapa Anak Kian Agresif ?

Agresifitas Pada Anak
Di ruang-ruang pembicaraan orangtua sering muncul keluhan kenapa ya anak saya menjadi agresif. Gaya omongannya menyerang, sikapnya tidak seperti pada zaman kita dulu terhadap orangtua yang cenderung takut. Jika kemauannya tidak dituruti, perilakunya langsung reaktif, seperti membanting pintu atau melawan. Pertanyaannya, apakah itu tren zaman atau memang watak anak-anak? Kalau ditinjau dari teorinya, memang dua-duanya berperan. Teori Tabularasa mengatakan anak-anak itu bagaikan lembaran putih. Lingkunganlah yang berperan mengisinya, dari mulai keluarga, sekolah, dan masyarakat, dengan segala isinya.
 
Tayangan televisi yang mengumbar perdebatan sengit, ungkapan yang agresif, sikap yang antisosial, dan lain-lain, bisa dimasukkan ke dalam faktor eksternal yang ikut membentuk keagresifan anak. Peradaban dalam keluarga yang dirasakan anak selama dalam berinterakasi juga ikut berperan. Dilihat dari sini, keagresifan anak adalah tren zaman atau pengaruh dari luar. Tapi, kalau menurut teori lain, faktor eksternal itu bukan satu-satunya. Teori perkembangan mengatakan agresifitas anak merupakan bagian dari problem perkembangan, proses alamiah karena mereka belum terlatih mengontrol diri atau karena faktor internal.
 
Sebagai orangtua, sikap kita yang terpenting bukan memperdebatkan mana teori yang benar, melainkan berusaha menangkap pesannya. Perkembangan anak itu ada yang dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Karena itu perlu ada usaha untuk menciptakan kondisi eksternal yang mendukung dan usaha untuk mengembangkan kapasitas internalnya.
 
Jika ditangkap pesan spiritualnya, kenyataan seperti ini mengisyaratkan bahwa kita ini tidak boleh sombong dengan meyakini anak kita pasti menjadi orang baik karena kita orang baik. Atau juga tidak perlu merasa minder duluan karena gen kita bukan orang hebat. Tuhan telah membuktikan ini melalui kisah tokoh-tokoh populer dan keluarganya di dunia ini dan di sekeliling kita.
 
Semoga Jangan Sampai Berlanjut Ke Remaja
Walaupun perilaku agresif anak itu terbilang manusiawi karena kapasitas kontrol-dirinya masih rendah, tapi tidak bisa ini selalu kita jadikan sebagai pembenar untuk tidak mengambil sikap dan tindakan apa-apa. Justru ini perlu kita lihat sebagai isyarat bahwa kita perlu bersikap dan bertindak, sesuai keadaan, kemampuan dan komitmen. Kenapa? Seagresif-agresifnya anak, orangtua masih punya ruang kontrol yang sangat-sangat besar terhadap mereka karena berbagai keterbatasannya.
 
Kalau dia tidak diberi uang saku, dia tidak bisa kemana-mana. Semarah-marahnya dia, kekuatan dan dampaknya masih bisa dikendalikan. Tapi coba bila ini berlanjut sampai usia remaja dan dewasa karena kita tidak bersikap dan bertindak semasa anak-anak? Besaran masalahnya dan dampaknya akan beda. Sudah sering kita lihat berita di televisi ada anak remaja awal yang melakukan pelanggaran yang tergolong besar, dari mulai tawuran dengan senjata tajam, lari dari rumah, masuk dalam jebakan agen narkoba, dan lain-lain. Kalau sudah begini, orangtua semakin kecil ruang kontrolnya.
 
Laporan studi internasional menunjukkan bahwa anak yang dari usia 3-10 tahun tidak tertangani dengan baik keagresifannya, akan sangat mudah diprediksi (good predictor) menjadi remaja yang agresif (International Longitudinal Study, by Cummings, et al:1989). Ini mungkin bisa menjadi penjelasan mengapa banyak anak SMP, SMA, atau mahasiswa yang sedikit-sedikit agresif.
 
Laporan studi lain, seperti dikutip Dr. Pelaez, dari Florida International University, mengungkap bahwa anak-anak yang mendapatkan warisan tradisi agresif dari orangtuanya atau keluarga besarnya, akan cenderung menjadi anak yang agresif. Beberapa anak juga sangat mungkin akan tumbuh menjadi agresif karena hidup di tengah lingkungan yang agresif.
 
Memang, logika hidup yang linier demikian tidak seratus persen merepresentasikan kenyataan. Ada beberapa anak yang punya kapasitas mengoreksi apa yang kurang baik dari orangtua atau lingkungan. Tetapi ini umumnya kembali ke faktor hidayah. Hidayah dalam arti ada pencerahan yang didapatkan dari Tuhan melalui renungan, eksplorasi, atau ajaran kebijaksanaan, misalnya Sidharta, Gandhi, Ibu Theresa, Tao, dan lain-lain.
 
Nah, dari banyak fakta yang bisa kita amati, perilaku agresif anak yang semula biasa tetapi kemudian berubah menjadi luar biasa itu memang sepertinya mendapatkan dukungan secara tidak langsung dari sikap kita sebagai orangtua. Dukungan yang kita berikan umumnya dalam bentuk:
 

1.   Selalu menyalahkan televisi. Mungkin televisi itu salah dengan tayangannya, tetapi dia tidak bisa dituntut bertanggung jawab untuk melahirkan anak yang baik.
2.   Hanya mengutuk zaman, kenapa ada facebook, internet, mall dan seterusnya. Zaman akan tetap berubah, terlepas kita kutuk atau tidak. Kitalah yang mestinya harus berubah juga
3.   Memusuhi anak atau memarahinya. Tugas kita adalah mendidik atau mengasuhnya, bukan semata bereaksi secara reaktif terhadap keagresifannya.
 
Artinya, menuding ke luar, entah ke setan, lingkungan atau zaman, sejauh hanya kita niatkan untuk menuding, kurang bisa membuahkan kebaikan, walaupun mungkin benar. Selain menuding, perlu ada kesadaran untuk meningkatkan kapasitas anak dalam menundukkan insting agresifnya dari kecil.
 
Bagaimana Keagresifan Berproses? 
Perilaku agresif anak secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hostile agression, misalnya suka memancing permusuhan atau menyakiti temannya tanpa sebab yang kuat atau merampas alat tulis temannya. Yang satu lagi adalah instrumental agression, misalnya dia membanting pintu karena tidak dikabulkan permintaannya. Agresi dijadikan alat untuk mendapatkan keinginan. Menurut riset, anak laki-laki lebih besar kecenderungan untuk bertindak agresif.
 
Kalau dilihat dari levelnya, mungkin ada anak yang keagresifannya baru pada tingkat ucapan, misalnya sedikit-sedikit menjerit untuk melampiaskan protesnya, berkata dengan nada kasar, seperti dalam sinetron. Tapi ada juga yang sudah sampai pada level tindakan, entah itu yang bersifat hostile atau instrumental. 
 
Terlepas apapun bentuk dan sifatnya, tapi ada yang secara pendidikan perlu kita bedakan antara pengaruh yang membentuk perilaku anak-anak dan orang dewasa. Untuk kepentingan pendidikan,dan perubahan, kita disarankan untuk meyakini bahwa pengaruh yang paling kuat membentuk perilaku anak adalah faktor eksternal.
 
Tujuannya adalah supaya muncul inisiatif perbaikan dari cara kita dalam mendidik dan tidak melulu menyalahkan anak. Faktor eksternal apa saja yang paling kuat mempengaruhi anak? Untuk anak yang berusia nol sampai belasan (sebelum remaja senior), pengaruh itu antara lain:
 
1.     Suasana psikologis yang dialami anak selama berinteraksi dengan orang dewasa di sekitarnya
2.     Kualitas kedekatan dengan orangtua, terutama sang ibu
3.     Tingkat pengenalan terhadap makna hidup 
4.     Suasana rumah tangga
5.     Pola pembiasaan perilaku dalam hidup
6.     Lingkungan sosial
7.     Tayangan yang dilihat anak
 
Sementara, untuk orang dewasa, secara pendidikannya kita disarankan untuk meyakini bahwa pengaruh yang paling kuat membentuk perilakunya adalah dirinya sendiri. Walaupun dalam prakteknya mungkin tidak begitu, namun dalam keyakinannya harus begitu. Alasannya adalah agar muncul inisitif untuk bertanggung jawab (internal locus of control). Dialah yang harus berubah. Bayangkan kalau sudah mahasiswa, sudah kerja atau sudah berumah tangga,  tapi masih kita ajari untuk menyalahkan dosennya, atasannya, lingkungannya, sopirnya, mertuanya, dan seterusnya. Mungkin dia akan lamban cerdas untuk dirinya sendiri gara-gara kita.
 
Di tradisi para orangtua kita dulu, pengalihan tanggung jawab dari faktor eksternal ke internal itu ditandai dengan mengadakan Selamatan. Misalnya saja untuk anak perempuan yang sudah menstruasi atau anak laki-laki yang sudah masuk puber. Tujuannya adalah penegasan dan harapan.
 
Non-Aggressive Environment
Melanjutkan apa yang sudah kita bahas di muka, bahwa faktor eksternallah yang paling berperan mempengaruhi anak-anak kita, maka yang mendesak untuk kita lakukan adalah berinisiatif menciptakan lingkungan yang non-agresif. Pasti ini tidak mudah. Hanya saja, persoalannya bukan mudah atau sulit. Persoalannya adalah apa yang perlu kita lakukan agar keagresifan anak-anak tidak berlanjut hingga usia remaja atau dewasa, yang saat itu sulit dikontrol. Dari beberapa poin yang kita singgung di muka, kira-kira yang perlu kita lakukan itu adalah:
 
Pertama, mengurangi seoptimal mungkin rewards yang sifatnya menciptakan ancaman psikologis pada anak. Sekali-kali mungkin kita perlu ketawa atau santai saja melihat anak bersuara keras atau membanting pintu. Jika kita mengalahkannya dengan keagresifan juga, dia akan belajar bahwa jurus yang top di dunia ini adalah agresif, seperti ayah-ibu melakukannya. Tapi tidak berarti marah harus dihilangkan. Selain sulit, anak pun perlu tahu sikap kita terhadap perilaku yang kurang beradab. Hanya, yang paling penting bukan marah atau ketawa, tetapi mengantarkan anak memahami perlunya mengurangi perilaku agresif dan pentingnya mengontrol emosi.
 
Kedua, menciptakan kualitas attachment (kelekatan) yang bagus. Namanya anak-anak pasti lengket sama orangtua atau orang dewasa. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan (comfort and secure). Tapi, dalam prakteknya tujuan itu bisa gagal karena keagresifan orang dewasa. Jika kebiasaan itu terjadi tanpa koreksi apa-apa, anak-anak akan mempunyai kesempatan untuk meng-copy atau menafsirkan perilaku kita. Mungkin tafsiran yang ia ciptakan adalah supaya hidup kita aman dan nyaman, kita harus agresif atau tafsiran lain yang mendukung. 
 
Ketiga, suasana komunikasi yang lebih berkualitas. Walaupun setiap saat kita berkomunikasi dengan anak-anak di rumah, tetapi soal kualitasnya tidak bisa disamakan. Ada yang diwarnai aksi menyerang secara lisan dan ada yang diwarnai kasih sayang. Kulitas komunikasi yang diwarnai penyerangan dapat menyuburkan sifat-sifat agresif pada anak.
 
Keempat, disiplin tertentu untuk meningkatkan kontrol diri. Disiplin tidak hanya berefek pada peningkatan intelektual semata, misalnya mendapatkan nilai akademik yang tinggi. Tetapi juga dapat memperbaiki kualitas mental karena dia akan berlatih untuk mrnyuruh dan melarang dirinya. Mengenai cara-cara untuk menerapakan disiplin itu sudah sering kita bahas di sini.
 
Kelima, mendampingi anak atau mengajak dia berdialog mengenai tayangan televisi untuk melatih sikap dia terhadap kenyataan.  Walaupun tidak rutin tapi kita perlu berusaha mengajak anak untuk mendialogkan perilaku dalam tayangan itu lalu menanyakan sikapnya dan logika yang ia jadikan pijakan dalam menentukan sikap. Semakin kuat konstruksi logikanya, akan semakin kuat juga sikap dia terhadap kehidupan.
 
Bagaimana dengan pengaruh sosial yang tentu saja di luar kontrol kita? Untuk masalah yang ini, selain memang perlu ada upaya-upaya preventif seperti di atas, kita juga perlu menciptakan upaya preventif lain yang basisnya spiritual. Mendoakan anak adalah salah satunya, seperti yang dilakukan dan disarankan nenek moyang dan leluhur kita.  
 
Demikian juga dengan kekayaan. Walaupun secara logika-materialisnya tidak memiliki hubungan yang kausatif (sebab akibat) antara kekayaan dengan kualitas perilaku anak, tapi secara spiritualnya hubungan itu disarankan untuk diyakini ada. Ajaran agama mengatakan gen itu menetes.
 
Lingkungan Sebelum Transaksi
Ada ajaran yang memberi kita tips bagaimana kita membeli rumah. Walaupun mungkin tidak berlaku untuk semua kasus, tapi penting juga untuk kita jadikan patokan. Tips-nya adalah perhatikan dulu lingkungan di sekitar rumah itu sebelum kita bertransaksi.
 
Bagaimana kalau kita sudah terlanjur menempati rumah yang menurut kita lingkungan tidak mendukung? Kalau kita tidak menemukan lingkungan yang cocok di luar rumah, ya kita harus menciptakannya di dalam rumah. Semoga bermanfaat (http://www.e-psikologi.com)

0 MEMBENTUK ANAK JENIUS

Tips atau cara menciptakan anak pintar bahkan jenius pasti banyak dicari oleh para ibu serta bapak yang mempunyai perhatian kepada buah hatinya.
Mendidik anak tidaklah mudah. Sebagai titipan Tuhan si anak diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal, tidak hanya secara fisik namun juga jiwa dan pemikirannya sehinga diharapkan di masa depan dapat menjadi seorang yang sukses dan berhasil.
Itulah sebabnya sedari dini perlu diperhatikan secara khusus berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan kepintaran anak agar jangan sampai terlambat dan dapat mengakibatkan ekspektasi orang tua yang begitu tinggi kepadanya menjadi sia-sia belaka.
Mudah-mudahan Tips atau cara menciptakan anak pintar nan jenius ini ada manfaatnya.
9 Cara Membuat Anak Pintar
Kepintaran seorang bisa dibilang sebuah anugerah yang diberikan kepada anak tersebut. Tapi ternyata faktor yang mempengaruhi kepintaran seorang anak juga ditentukan oleh lingkungannya.
Ada banyak hal yang bisa membuat anak menjadi lebih pintar, tentunya selain dengan belajar di sekolah. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari MSNNews, 
1. Bermain permainan yang berpikir
Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks.
2. Bermain musik
Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.
3. Pemberian asi
ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.
4. Membiasakan berolahraga
Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.
5. Menyingkirkan makanan siap saji
Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.
6. Mengembangkan rasa ingin tahu
Para ahli mengatakan orang tua yang menunjukkan rasa ingin tahunya pada anak akan mendorong anak untuk mencari ide-ide baru, sehingga merangsang anak untuk berpikir. Mengajari anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.
7. Budayakan membaca
Membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Cara ini bisa dimulai dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.
8. Mengajarkan kepercayaan diri
Orang tua sebaiknya meningkatkan semangat dan optimisme anak-anak. Berpartisipasi dalam tim olahraga atau kegiatan sosial akan membantu meningkatkan kepercayaan diri sang anak diantara teman-temannya.
9. Memberikan sarapan yang sehat
Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah.
sumber tulisan : http://id.shvoong.com

0 MENGENAL BAKAT ANAK SEJAK DINI

Setiap anak lahir dengan potensi dan bakatnya masing-masing. Sayang, tidak setiap orangtua dengan mudah memahaminya. Akibatnya banyak bakat yang tidak dapat terdeteksi sejak dini atau bahkan hilang begitu saja. Bagaimana cara mengenal bakat anak sejak dini?.
"Tak ada jaminan bahwa bakat anak saat ini, adalah bakatnya hingga dewasa. Menurut Psikolog Verauli, M.Psi, perubahan ini sesuai dengan kondisi usia anak tersebut.Saya punya klien yang umurnya 80 tahun dan sampai sekarang belum tahu bakatnya apa," jelas psikolog muda ini.
Menurut Verauli, bakat anak bersifat majemuk, tergantung peran orangtua untuk membantu mengarahkan potensi yang dimiliki si anak, dapat mencakup, antara lain:

1. bakat musik;
2. berpikir logis matematis;
3. interpersonal;
4. intrapersonal, dan sebagainya.

Penyebab utama bakat-bakat tidak tampil, alias terpendam hingga dewasa, antara lain:

1. Ketidakpekaan orangtua terhadap bakat buah hatinya;
2. Tempat tinggal atau lingkungan yang minim fasilitas penunjang;
3. Lemahnya atau kurangnya pendidikan dan pelatihan.


Minat dan bakat memiliki perbedaan. Di sinilah orangtua harus mampu melihat, apakah si kecil memang berbakat terhadap sesuatu atau hanya sekedar berminat saja. "Misalnya, si kecil menunjukkan ketertarikan pada golf. Ketika dibawa ke lapangan golf, jika ia memegang stik bola dan antusias untuk bermain, dapat dipastikan ia berbakat. Tapi, jika ketertarikannya hanya sesaat saja, berarti itu hanya minat.
Anak yang berbakat, lanjutnya, biasanya memiliki kemampuan di atas rata-rata dan cerdas. Ciri-ciri anak berbakat, antara lain:

1. Dapat dengan mudah menangkap informasi yang disajikan;
2. Memiliki ingatan yang baik;
3. Memiliki penalaran tajam;
4. Mampu berkonsentrasi dan senang mempelajarinya.

Orangtua harus tahu perbedaan antara anak yang cerdas dan kreatif.. Anak yang cerdas belum tentu kreatif. Begitu juga sebaliknya, anak yang kreatif belum tentu cerdas."
Anak yang kreatif, biasanya memiliki rasa ingin tahu yang besar, punya banyak ide dan gagasan, serta mampu mengembangkan ide dan gagasannya tersebut. Ia juga memiliki daya imajinasi yang kuat, serta selalu senang mencoba hal-hal baru.
sumber tulisan : http://id.shvoong.com

0 PERKEMBANGAN BICARA DAN BAHASA ANAK

Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti ‘eh’, ‘ah’, ‘uh’, ‘oh’ dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti ‘m’, ‘p’, ‘b’, ‘j’ dan ‘k’. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan “tunggal” dengan menyuarakan ‘gaga’, ‘ah goo’, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan ‘ma’, ‘ka’, ‘da’ dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua


  1. Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.


  2. Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.


  3. Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.


  4. Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan “nyam-nyam” (Sumber: Jacinta F. Rini, e-psikologi

0 Rasa ingin tahu anak besar= Anak Cerdas ???

”Anak yg selalu bertanya atau rasa ingin
tahunya besar adalah anak yg cerdas.”
Benarkah pernyataan itu?
Apakah memang demikian kenyataannya?
…Ada satu hal lagi yg perlu menjadi
perhatian kita dalam menilai apakah anak tersebut
BENAR-BENAR mempunyai ciri-ciri anak cerdas.

ika anda sudah banyak membaca buku ataupun
menerima banyak informasi tentang perkembangan
anak, pasti anda pernah mendapatkan pernyataan berikut:
”Anak yg selalu bertanya atau rasa ingin
tahunya besar adalah anak yg cerdas.”
Benarkah pernyataan itu?
Apakah memang demikian kenyataannya?
(Semoga anda tidak menjadi ragu dengan 2 pertanyaan di atas.)
Memang BENAR bahwa salah satu ciri anak cerdas
adalah anak yg rasa ingin tahunya besar, selalu
bertanya tentang banyak hal.
TETAPI, ada satu hal lagi yg perlu menjadi
perhatian kita dalam menilai apakah anak tersebut
BENAR-BENAR mempunyai ciri-ciri anak cerdas.
Apa itu?
Setelah anak mengajukan pertanyaan, ada 1 tahapan
lanjutan yg bisa dijadikan acuan apakah dia
benar-benar ingin tahu, yaitu:
”APAKAH ANAK BENAR-BENAR MEMPERHATIKAN JAWABANNYA.”
Anak yg cerdas akan bertanya banyak hal karena
memang dia ingin tahu jawabannya. Biasanya, jika
anak tersebut bertanya, dia akan ‘mengejar’
jawaban kita dengan pertanyaan lanjutan, sampai
kita orangtua menjadi kewalahan dalam menjawabnya.
Inilah salah satu ciri-ciri anak cerdas yang sebenarnya!
Kadang-kadang kita melihat anak yang selalu bertanya, tetapi sebelum dijawab anak tersebut sudah bertanya lagi hal yang lain lagi secara terus menerus. Hal ini menunjukkan bahwa anak tersebut tidak benar-benar ingin tahu terhadap apa yang ditanyakannya.
Menghadapi anak seperti itu, kita perlu mengarahkan sedikit demi sedikit, sehingga anak menjadi bisa memfokuskan dirinya terhadap apa yang ingin diketahuinya.
Kemudian, sarana TERBAIK untuk memuaskan
keingin-tahuan anak adalah dengan menyediakan
buku, dan mengajarkan anak MEMBACA sejak dini.
Aktivitas membaca mempunyai pengaruh terbesar
dalam kehidupan berpikir seorang
anak
, yang pada
akhirnya akan berpengaruh juga terhadap tingkat
kecerdasan anak.

Untuk menstimulasi hal tersebut, kita perlu
memberikan kegiatan lanjutan setelah anak selesai membaca dalam suasana yang menyenangkan.
Misalnya, kita bisa membuat quiz tentang isi dari bacaan tersebut, dlsb. Hal ini perlu untuk melatih anak belajar menguasai isi bacaan tersebut.
Pemahaman terhadap isi bacaan merupakan tahap lanjutan yang sangat penting untuk diajarkan setelah anak mulai lancar membaca.
Yang lebih penting lagi:
JANGAN memaksa anak untuk membaca!
Beri kebebasan kepada anak untuk memilih buku
yang ingin dibacanya.
INGAT, yang penting BUKAN APA yang dibaca oleh
anak, TETAPI BAGAIMANA anak membacanya. Tentu saja, selama buku-buku tersebut sesuai untuk anak-anak.
Jangan samapai, misalnya, kita memaksa anak membaca buku tentang binatang, padahal anak sedang ingin membaca buku tentang angkasa luar.
Adil Fathi Abdullah dalam bukunya mengatakan:
”Andai kita berhasil membuat anak gemar dan
menikmati aktivitas membaca serta menjadikannya
sebagai sarana untuk meningkatkan daya pikirnya,
berarti kita telah memberikan kebaikan yang
tidak ternilai dengan harta dunia.”

Anda setuju?
Saya sangat SANGAT sependapat dengan pernyataan diatas. (Sumber:Taufan Surana, Balita Cerdas)

Daftar Blog Saya

 

Selamat Datang Di ERICKVAND BLOG

Selamat datang di Blog saya, semoga saja kalian bisa mendapatkan apa yang kalian butuhkan diblog saya ini. Terima kasih Telah Berkunjung Di Blog saya,apabila berkenan silahkan berkomentar dan follow blog saya,mari kita saling berbagi ilmu tentang apa saja...

Sekilas tentang penulis

Nama saya Erickvand Tampilang,saya seorang Mahsiswa S1 pendidikan Biologi Diuniversitas Negeri Gorontalo.

Erick