Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label Contoh Proposal Skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh Proposal Skripsi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2012

0 Proposal Skripsi Bahasa Inggris : Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Inggris melalui Penguasaan Grammar

Latar Belakang 

Bahasa adalah kebiasaan, semakin kerap bahasa digunakan maka semakin cepat seseorang menguasai bahasa tersebut. Untuk menggunakan bahasa Inggris yang baik dan benar sesuai kaidah yang ada, baik dalam percakapan yang sifatnya formal maupun dalam tulisan diperlukan pengetahuan luas yang mencakup beberapa hal, diantaranya gramatikal.
Penguasaan grammar merupakan salah satu kendala yang dialami oleh siswa dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris. Rendahnya hasil belajar siswa dapat disebabkan oleh banyak faktor demikan hal yang terjadi pada siswa kelas 1 SMP Negeri I Lambu Kabupaten Bima.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, apakah dengan penguasaan grammar dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris pada siswa kelas I SMP Negeri I Lambu

Tinjauan Pustaka
Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis di jenjang pendidikan, jadi gagal atau berhasilnya pencapaian tujuan pendidikan itu bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan.
Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling penting dalam pendidikan dapat dikatakan bahwa tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan.
Menurut Morgan (1986) belajar dapat didefinisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman
Menurut Raber (1988) learning is a relatively permanent change in response potentiality which occurs as a result of reinforced practice.
Ormrod (1995) mendeskripsikan adanya dua definisi belajar yang berbeda definisi pertama menyatakan bahwa learning is a relatively permanent change in behavior due to experience, sedangkan definisi yang kedua adalah “learning is a relatively permanent change in mental associations due to experience”.
Jadi, berdasarkan beberapa pendapat di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa belajar adalah korelasi antara perubahan kemampuan, perubahan perilaku karena pengalaman dan perubahan mental karena pengalaman jadi ketiga hal di atas merupakan suatu hal yang mendasar yang dihasilkan dalam belajar.
Hasil belajar bahasa Inggris
Hasil belajar bahasa Inggris merupakan salah satu tolak ukur berhasil atau tidaknya siswa dalam proses belajar mengajar, sebagai inti dari berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam belajar bahasa Inggris adalah terletak pada tata bahasanya. Belajar tata bahasa Inggris merupakan hal yang mutlak dalam meningkatkan belajar bahasa Inggris.

Metodologi Penelitian
Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tahapan-tahapan pelaksanaan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi secara berulang
Adapun prosedur dalam jenis penelitian ini adalah :
Perencanaan
Menyiapkan soal latihan yang akan diberikan di kelas pada saat proses belajar mengajar untuk lebih mengaktifkan siswa, dan memberikan bimbingan individu pada siswa yang mengalami kesulitan.
Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini tindakan yang dilakukan adalah dengan mengadakan perbaikan pada metode mengajar yang diterapkan
Tahap observasi
Tahap observasi dilaksanakan pada waktu proses belajar mengajar berlangsung, data yang diambil adalah kehadiran, keaktifan siswa dan memberi respon, bertanya dan menulis jawaban di papan tulis.
Tahap refleksi
Tahap pengalaman dari tiap-tiap kelompok dikumpulkan serta dianalisis, baik hasil evaluasi maupun data dari hasil observasi yang diperoleh pada saat melaksanakan pengajaran.

Tujuan dan Kegunaan
Tujuan
Secara operasional tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris siswa kelas I SMP Negeri I Lambu Kabupaten melalui penguasaan grammar
Kegunaan
Adapun kegunaannya adalah
  1. Untuk mengetahui apakah dengan penguasaan grammar dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada SMP 1 Negeri I Lambu.
  2. Meningkatkan kemampuan meneliti guru dalam mengatasi pembelajaran bahasa Inggris
Kesimpulan
Jadi  dengan penguasaan grammar yang bagus dan benar akan meningkatkan hasil belajar siswa khususnya dalam belajar bahasa Inggris. Jadi pada dasarnya belajar grammar sangat penting dalam penguasaan bahasa Inggris karena grammar merupakan tahap pertama untuk menguasai bahasa Inggris. Jadi pada kesimpulannya penguasaan grammar itu sangat dibutuhkan.

Daftar Pustaka
Oeman, Hamalik. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung; CV. Sinar Harapan Baru, 1987
 Azhan, Akyas, Psikologi Pendidikan. Semarang. Dina Utami, 1996.
Kardimin, Akhmad Tata Bahasa Inggris. Yogyakarta; Pustaka Belajar. 2003.

0 Contoh Proposal Skripsi Pendidikan Matematika : Pendekatan Keterampilan Proses

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan formal bertambah dari tahun ke tahun. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi bangsa indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan formal pada setiap jenjang pendidikan. Usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti.
Banyak pihak yang mempertanyakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita ? dari berbagai pengamatan dan analisis data ada banyak faktor yang menybabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan yang bermakna, salah satunya yaitu pendekatan yang digunakan di dalam kelas belum mampu menciptakan kondisi optimal bagi berlangsungnya pembelajaran. Selama ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan input-output analisis, yaitu pendekatan yang menganggap bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lainnya dipenuhi maka mutu pendidikan secara otomatis akan terjadi. Dalam kenyataan mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi. Mengapa? karena selama ini pendekatan terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan proses pendidikan padahal proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.
Proses pendidikan tidak terlepas dari kegiatan belajar mengajar di kelas. Kegiatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh kerjasama antara guru dan siswa. Guru dituntut untuk mampu menyajikan materi pelajaran dengan optimum. Olehnya itu diperlukan kreatifitas dan gagasan yang baru untuk mengembangkan cara penyajian materi pelajaran di sekolah. Kreativitas yang dimaksud adalah kemampuan seorang guru dalam memilih metode, pendekatan, dan media yang tepat dalam penyajian materi pelajaran.
Namun kenyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini masih banyak guru yang menggunakan pendekatan tradisional dalam pembelajaran matematika sehingga siswa belum terarahkan untuk memahami sendiri konsep-konsep matematika yang sedang dipelajari. Pendekatan tradisional tersebut belum mampu mengembangkan kemampuan kognitif (penalaran), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan) seperti yang digariskan dalam GBPP. Dengan demikian siswa hanya cenderung menghafalkan konsep-konsep matematika yang dipelajarinya tanpa memahami dengan benar. Akibatnya penguasaan terhadap konsep-konsep matematika siswa menjadi sangat kurang. Selain itu guru sebagai pemberi informasi cenderung mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas sehingga tidak terjadi hubungan timbal balik antar guru dan siswa yang berimplikasi terhadap kualitas pembelajaran dalam proses belajar mengajar matematika.
Berdasarkan hasil observasi penulis di kelas IX SMP Negeri 1 Bone-Bone, kondisi pembelajaran seperti yang digambarkan di atas masih sering terjadi. Siswa masih kurang aktif dalam proses belajar mengajar, hal ini mengakibatkan  hasil belajar matematika siswa tergolong rendah.
Dari uraian di atas, maka salah satu upaya yang dianggap dapat memecahkan masalah tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses sebagai satu strategi yang diharapkan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu perlu diamati dengan penerapan langsung di lapangan. Untuk menyelidiki hal tersebut peneliti mencoba mengadakan penelitian dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Pada Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Bone-Bone”.
Identifikasi Masalah
Masih banyak guru yang menggunakan pendekatan tradisional dalam pembelajaran matematika, sehingga siswa belum terarahkan untuk memahami sendiri konsep-konsep matematika yang sedang dipelajari. Pendekatan tersebut hanya mengembangkan kemampuan siswa untuk menghafal konsep matematika, belum mampu mengembangkan kemampuan kognitif (penalaran), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan) seperti yang digariskan dalam GBPP. Dengan demikian siswa hanya cenderung menghafalkan konsep-konsep matematika yang dipelajarinya tanpa memahami dengan benar. Hal ini mengakibatkan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika yang dipelajarinya menjadi kurang. Oleh karena itu diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai yaitu pendekatan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai suatu pendekatan belajar yang memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika yang dipelajari.
  1. A. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka permasalahan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah apakah hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Bone-Bone dapat ditingkatkan melalui pembelajaran matematika dengan pendekatan keterampilan proses ?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan :
  1. Meningkatkan aktifitas keterampilan proses melalui pendekatan keterampilan proses siswa kelas IX SMP Negeri 1 Bone-Bone.
  2. Meningkatkan hasil belajar matematika keterampilan proses melalui pendekatan keterampilan proses siswa kelas IX SMP Negeri 1 Bone-Bone.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat begi :
  1. Siswa.  Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk mengevaluasi diri dan memberikan kesempatan berkembangnya keterampilan memproseskan perolehan belajarnya.
  2. Guru.  Khususnya guru matematika sebagai bahan pertimbangan dalam mengelola dan merancang proses belajar mengajar.
  3. Mahasiswa. Dapat menjadi motivator bagi mahasiswa lain untuk mengembangkan peneliti lebih lias sehingga dapat bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran             matematika di sekolah.
  4. Peneliti. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas akan fakta dilapangan terutama yang    berkaitan dengan penerapan strategi belajar mengajar yang menggunakan        pendekatan keterampilan proses.
KAJIAN TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
Kajian Teoretik
Hakekat Matematika
@ Definisi matematika
Sampai sekarang ini belim ada kesepakatan yang bulat diantara para matematikawan tentang definisi matematika. Sasaran penelahan matematika tidak bersifat konkrit, tetapi bersifat abstrak. Matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan-bilangan serta operasinya melainkan juga unsur ruang sebagai sasarannya.
Matematika sebagai ilmu tentang struktur memerlukan penggunaan simbol-simbol dan hubungan, maka matematika memerlukan kemampuan memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang disepakati. Simbolisasi ini memungkinkan adanya komunikasi dan mampu memberikan keterangan untuk menyatakan suatu konsep baru. Penelaahan struktur-struktur sangat diperlukan untuk manyatakan suatu konsep dalam matematika harus dilakukan lebih dahulu sebelum pemanipulasian simbol-simbol.
Hudoyo (1990:4) berpendapat bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hierarki dari penalaran deduktif. Matematika tersusun secara hierarkis dan saling berkaitan erat satu sama lain. Dalam belajar matematika harus bertahap dan berurutan secara sistematis serta harus didasarkan pada pengalaman belajar sebelumnya. Seseorang akan mampu mempelajari matematika yang baru apabila didasarkan kepada pengetahuan yang telah dipelajari. Pengajaran yang lalu akan mempengaruhi proses belajar materi matematika berikutnya yang tersusun secara heirarkis.
Matematika memiliki peran deduktif yang berkenaan dengan ide-ide yang abstrak dan simbol-simbol yang tersusun secara hierarkis serta aksiomatik, sehingga dalam belajar matematika memerlukan sesuatu aktifitas mental untuk memahami arti berbagai struktur, hubungan dan simbol. Kemudian menerapkan pada situasi lain, sehingga terjadi pengetahuan dan keterampilan.
@ Karakteristik Matematika
Setelah menralami tentang definisi, maka dapat terlihat adanya ciri-ciri khusus atau karakteristik yang dapat merangkum pengetian secara umum.
Beberapa karakteristik itu adalah :
  1. Memiliki objek abstrak. Dalam matematika obyek dasar yang dipelajari adalah abstrak, sering juga disebut obyek mental. Obyek-obyek itu meliputi obyek pikiran yang meliputi fakta-fakta, konsep, operasi ataupun relasi dan prinsip. Dari obyek dasar itulah dapat disusun suatu pola dan struktur matematika.
  2. Bertumpu pada kesepakatan. Dalam matematika kesepakatan yang amat mendasar adalah aksioma dan prinsip primitif. Aksioma diperlukan untuk menghindari kekeliruan dalam pendefinisian dimana konsep primitif itu tidak perlu didefenisikan.
  3. Berpola pikir deduktif.  Dalam matematika sebagai ilmu hanya menerima pola pikir deduktif. Pola pikir secara deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran yang pangkal dari hala bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus.
  4. Memiliki simbol yang kosong dari arti. Dalam matematika terlihat banyak sekali simbol yang digunakan, baik berupa huruf ataupun bukan huruf. Rankaian simbol-simbol dalam matematika dapat membentuk suatu model dalam matematika. Makna huruf dan tanda dalam model itu bergantung dari permasalahan yang mengakibatkan terbentuknya model tersebut. Kosongnya arti simbol maupun tanda dalam model-model matematika itu justru memungkinkan interfensi ke ralam berbagai ilmu pengetahuan.
  5. Memperhatikan semesta pembicaraan. Sehubungan dengan kosongnya pengertian tentang arti dari simbol-simbol dalam matematika di atas, menunjukkan dengan jelas bahwa dalam menggunakan matematika diperlukan kejelasan dalam lingkup apa model itu dipakai. Lingkup pembicaraan itulah yang disebut semesta pembicaraan. Benar atau salah ataupun ada tidaknya penyelesaian suatu model matematika sangat ditentukan oleh semesta pembicaranya.
  6. Konsisten dalam sistemnya. Dalam matematika terdapat banyak sistem. Adanya sistem yang mempunyai kaitan satu sama lain, tetapi ada juga sistem yang dapat dipandang terlepas satu sama lain. Dari masing-masing sistem tersebut berlaku konsisten. Ini dapat pula dikatakan bahwa dalam setiap sistem dan strukturnya tidak boleh terdapat kontradiksi.
Pengertian Belajar dan Belajar Matematika
@ Pengertian belajar
Belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar. Karena itu, seseorang dikatakan belajar, bila dapat diasumsikan dan diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku.
Uzer dalam Darmin (2003:6) mengemukakan bahwa “belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya”.
Sedangkan Slameto (1991:2)  mengemukakan bahwa :
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengamatan individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya ”.
Kemudian Sudjana (1997:25) memberikan pengertian bahwa :
“Belajar adalah proses aktif, belajar adalah perubahan tingkah laku terhadap           semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan             kepada tujuan yang melalui berbagai pengalaman seperti proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu ”.
Sejalan dengan itu, ahli belajar modern mengemukakan dan merumuskan perbuatan belajar adalah sebagai suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Hamalik 1993 :10).
Dari beberapa defenisi belajar yang telah dikemukakan di atas maka peneliti berkesimpulan bahwa belajar itu adalah salah satu kegiatan atau aktifitas manusia yang merupakan proses usaha yang aktif untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru, baik melalui berbagai pengalaman maupun kegiatan aktifitas yang terarah. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat berupa proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu. Sedangkan belajar melalui atau aktifitas yang terarah dapat berupa mempertimbangkan dan menghubungkan dengan pengalaman masa lampau yang diaplikasikan dalam bentuk latihan.
@ Belajar matematika
Berkaitan dengan definisi matematika tersebut Ruseffendi (1998: 260) menyatakan bahwa “Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran”.
James dalam Suherman (2001:16) menyatakan bahwa :
“Matematika adalah konsep ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan,            besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terjadi ke dalam tiga bidang yaitu : aljabar, analisis, dan geometri”.
Masih banyak lagi definisi tentang matematika. Dari definisi-definisi tersebut setidaknya dapat memberi gambaran tentang pengertian matematika. Semua definisi tersebut dapat diterima, karena memang matematika dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang dan matematika itu sendiri dapat memasuki seluruh segi kehidupan manusia mulai dari yang paling sederhana sampai kepada yang lebih kompleks.
Dalam pembelajaran, matematika harus secara bertahap, berurutan serta berdasarkan kepada pengalaman yang telah ada sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Dienes dalam Muhkal (1999: 92) yang menyatakan bahwa “Belajar metematika melibatkan suatu struktur hierarki dari konsep-konsep tingkat lebih tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang telah terbentuk sebelumnya”.
Pendapat lain dikemukakan oleh Bruner dalam Hudoyo (1990 :48) yaitu “Belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu”.
Dari beberapa pengertian belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar dalam konteks matematika adalah suatu konsep aktif yang sengaja dilakukan untuk memperoleh pengetahuan baru yang memanipulasi simbol-simbol dalam struktur matematika sehingga terjadi perubahan tingkah laku.
Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar merupakan indikator keberhasilan yang dicapai siswa dalam usaha belajarnya. Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan tingkat keberhasilan yang dicapai seseorang setelah melalui proses belajar.
Hudoyo (1990 : 139) memberikan batasan bahwa :
“Hasil belajar adalah proses berpikir untuk menyusun hubungan-hubungan antara   bagian-bagian informasi yang telah diperoleh sebagai pengertian-pengertian. Karena itu orang menjadi memahami dan menguasai hubungan-hubungan tersebut  sehungga orang itu dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan     pelajaran yang dipelajari”.
Pendapat lain dikemukakan Sudjana (1997 : 10) yaitu hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Sementara itu Sudjana membagi tiga macam hasil belajar yaitu :
  1. Keterampilan dan kebiasaan
  2. Pengetahuan dan pengertian
  3. Sikap dan cita-cita
Selanjutnya mengenai bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum, bahan tersebut dapat diajarkan menurut jenis hasil belajar yang ingin dicapai.
Sedangkan Gagne dalam Sudjana (1997 : 12) membagi 5 kategori hasil belajar yaitu :
  1. Informasi verbal
  2. Keterampilan intelektual
  3. Strategi kognitif
  4. Sikap
  5. Keterampilan motoris
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikulum maupun tujuan instruksional menggunakan klarifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom Dalam Sudjana (1997 : 13) yang secara garis besar dibagi menjadi tiga ranah, yaitu :
  1. Ranah kognitif
  2. Ranah afektif
  3. Ranah psikomotorik
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Hasil belajar matematika dapat diukur langsung dengan menggunakan tes hasil belajar
Pendekatan Keterampilan  Proses
Didalam kurikulum 1984, keterampilan proses didefinisikan sebagai suatu pendekatan mengajar yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar sehingga kesempatan untuk mengembangkan diri dan percaya diri dapat ditingkatkan. Dalam pendekatan seperti ini diharapkan konsep, hukum, teori dapat dirumuskan dan didefenisikan sendiri melalui proses yang dilakukannya.
Pada petunjuk pelaksanaan prosese balajar mengajar dijelaskan pula bahwa yang dimaksud dengan keterampilan proses adalah keterampilan siswa untuk mengelola perolehan belajarnya yang didapat melalui proses belajar mengajar yang memberikan kesempatan lebih luas kepada siswa untuk mengamati, menggolongkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan, dan mengkomonikasikannya. Pada dasarnya keterampilan fisik dan mental serta pengembangan keterampilan proses telah dimiliki pula oleh anak meskipun dalam wujud potensi atau kemampuan yang masih rendah, kemampuan yang masih perlu dituntut untuk diwujudkan.
Suryo Subroto (1995 : 75) mengemukakan bahwa dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproseskan pendekatan belajar, anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sikap dan nilan yang dituntut seluruh irama gerak atau tindakan dalam prosese balajar mengajar sejati menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif. Dengan demikian, melalui pendekatan keterampilan proses itu diterapkan sentuhan untuk mengaktifkan anak didik belajar untuk mempelajari sesuatu mewujudkan suatu minat yang akhirnya mengarah kepada suatu keterlibatan yang dilandasi rasa tanggung jawab didalam menghadapi dan mangatasi masalah-masalah dalam belajar.
Sementara itu proses belajar mengajar hendaknya selalu mengikutkan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan-kemampuan siswa antara lain kemampuan mengamati, menginterpretasikan, meramalkan, mengaplikasikan konsep, merencanakan dan melaksanakan penelitian, serta mengkomunikasikan hasil penemuannya.
Hal ini sejalan dengan tujuan pendekatan keterampilan proses itu sendiri yang meliputi :
  1. Memberikan motivasi .belajar kepada siswa karena dalam keterampilan proses siswa dipacu untuk senantiasa bepartisipasi aktif dalam belajar
  2. Untuk lebih memperdalam konsep pengertiandan fakta yang dipelajari siswa karena hakekatnya siswa sendirilah yang mencari dan menemukan konsep tersebut
  3. Untuk mengembangkan pengetahuan atau teori dengan kenyataan hidup dalam masyarakat sehingga antara teori dan kenyataan hidup akan serasi
  4. Sebagai persiapan dan latihan dalam menghadapi hidup didalam masyarakat sebab siswa telah dilatih untuk berpikir logis dalam memecahkan masalah
  5. Mengembangkan sikap percaya diri, bertanggung jawab dan rasa kesetiakawanan sosial dalam menghadapi berbagai masalah.
Pada dasarnya keterampilan proses ini dilaksanakan dengan menekankan pada begaimana siswa belajar, begaimana siswa mengolah problemnya sehingga menjadi miliknya. Yang dimaksud dengan perolehan itu adalah hasil belajar siswa yang diperoleh dari pengalaman dan pengamatan lingkungan yang diolah menjadi suatu konsep yang diperoleh dengan jalan belajar secara aktif melalui keterampilan proses. Keterampilan proses dan ciri-cirinya oleh Sriyono (1988 : 36) disajikan dalam tabel 1.1 berikut :
No Keterampilan Proses Indikator Komponen operasional
1 Mengamati dengan panca indera Mengumpulkann fakta yang relefan, menggunakan sebanyak mungkin indera. Merasakan, meraba, membau, mencicipi, mengecap
2 Mengajukan pertanyaan Bertanya untuk menerima kejelasan Bertanya mengapa, apa atau bagaimana
3 Menghitung Berhitung, hasil perhitungan dapat dikomunikasikan dengan tabel, grafik atau hitogram. Hitunglah
4 Menggambar Menggambar Menggambar
5 Berkomunikasi Menyusun dan menyampaikan informasi secara sistematis, menjelaskan hasil, mendiskusikan hasil. Berdiskusi, berdeklamasi, bertanya, memperagakan, mengekspresikan dan melaporkan dalam bentuk lisan, tulisan, gambar penampilan dan gerak.
6 Mengukur Mengukur dengan alat ukur baku. Mengukur
7 Klasifikasi Memasukan kedalam golongan atau kelompok berdasarkan patokan tertentu. Mengelompokkan, menggolongkan, membandingkan, mengontraskan.
8 Prediksi Dengan menggunakan pola-pola (hubungan-hubungan) mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati. Meramalkan, menafsirkan berdasarkan kecenderungan pola yang telah dimiliki melalui hubungan pola atau fakta untuk diterapkan pada suatu yang baru.
9 Menyimpulkan Memberi arti inferensi Menyimpulkan, menginterpretasikan.
10 Menerapkan konsep Menggunakan konsep-konsep yang telah depelajari dalam situasi baru. Menggunakan, menerapkan konsep dalam situasi yang baru.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teoretik yang telah diuraikan diatas, maka diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut “Bila Diterapkan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Matematika, maka Hasil Belajar Matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Bone-Bone dapat meningkat ”.
METODE  PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research), yang dibagi dalam dua siklus dengan empat tahapan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara berulang.
Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IX SMPN 1 Bone-Bone tahun pelajaran 2010/2011.
Faktor Yang Diselidiki
  1. Faktor hasil belajar, yaitu perilaku-perilaku belajar siswa yang mencakup keaktifan, kehadiran, serta penguasaan siswa tentang hasil belajar matematika siswa yang dapat melalui pembelajaran dengan penerapan keterampilan proses termasuk dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi.
  2. Faktor siswa, yaitu melihat kemampuan dalammenyelesaikan masalah soal matematika dalam pembelajaran dengan metode pendekatan keterampilan proses.
  3. faktor sumber pelajaran, yaitu untuk melihat sumber atau bahan pelajaran dan soal-soal latihan yang diberikan sudah sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Prosedur Kerja Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus 1 (berlangsung selama tiga minggu) dan siklus II (berlangsung selama tiga minggu). Tiap  siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Untuk itu setiap akhir siklus diberikan tes untuk melihat sejauh mana peningkatan kemampuan siswa.
Secara rinci, prosedur penelitian yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian dijabarkan sebagai berikut :
SIKLUS I
Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap perencanaan adalah :
  1. Menelaah materi pelajaran matematika SMP
  2. Membuat skenario pembelajaran
  3. Membuat lembar observasi untuk melihat kondisi proses belajar mengajar berlangsung di kelas ketika pendekatan keterampilan proses diaplikasikan
  4. Melaksanakan tes akhir untuk melihat perkembangan siswa setelah menerapkan pendekatan keterampilan proses
Melaksanakan Tindakan
Kegiatan awal
Guru mengawali pertemuan dengan mengecek kehasiran siswa. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Guru memberi motivasi kepada siswa tentang pentingnya materi yang akan disajikan.
Kegiatan inti
Pengembangan
Guru mengawali kegiatan dengan mengajukan masalah keterampilan proses. Jika pengetahuan materi siswa belum cukup untuk menjawab masalah tersebut, maka guru membimbing siswa kearah jawaban yang benar atau menjelaskan materi yang belum dipahami siswa. Guru memberikan pekerjaan kepada siswa aecara berkeliling. Kemudian guru memberikan pertanyaan lanjutan lalu mendorong siswa untuk membuat kesimpulan dari jawaban yang bervariasi, sampai kepada kesimpulan yang diinginkan. Guru selalu memantau belajar siswa, untuk mengetahui apakan materi yang diinginkan sudah dipahami, siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan meminta penjelasan guru.
Penerapan
Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang sub pokok bahasan, maka siswa diarahkan untuk mengerjakan soal latihan. Lalu guru maminta salah seorang siswa mengerjakan di papan tulis, agae siswa yang belum paham depat tertolong dan termotivasi untuk belajar. Penugasan kepada siswa untuk menyelesaikan soal di papan tulis, dilakukan secara bergantian sehingga setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan tugas.
Kegiatan akhir
Review
Guru membahas ulang secara singkat pembelajaran yang dilakukan,  kemudian  siswa dibimbing untuk membuat rangkuman.
Penugasan pekerjaan rumah
Guru menugaskan siswa untuk mengerjakan soal-soal pada buku paket masing-masing secara individu.
Penilaian
Jenis tagihan adalah tugas individu, disamping itu guru juga menilai aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung untuk memantau peningkata minat siswa dalam belajar, untuk mengetahui hasil belajar siswa pada siklus 1 dengan penerapan keterampilan proses.
Observasi
Observasi dilakukan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Semua kejadian dicatat oleh peneliti.
Refleksi
Pada akhir siklus diadakan refleksi terhadap hal-hal yang diperoleh baik dari hasil observasi dan evaluasi dikumpul kemudian dianalisis. Kekurangan-kekurangan yang telah terjadi pada siklus 1 diperbaiki pada siklus berikutnya.
SIKLUS II
Langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus II ini relatif sama dengan perencanaan memperhatikan dengan kenyataan yang ditemukan dilapangan.
Perencanaan
Kegiatan dilakukan pada tahap perencanaan secara umum sama dengan siklus I dengan memperhatikan kesulitan yang dialami pada siklus I.
Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini pada dasarnya sama dengan pelaksanaan tindakan pada siklus I dengan memperhatikan kesulitan yang dialami siswa pada siklus I serta guru melakukan pembenahan dalam penyajian materi dan pelaksanaan tindakan sehingga siswa lebih akrif dan termotivasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Observasi
Pada dasarnya observasi pada siklus II sama dengan observasi yang dilakukan sebelumnya. Peneliti mencatat temuan dan perubahan yang terjadi pada siswa, serta melaksanakan evaluasi yaitu berupa tes hasil belajar pada akhir siklus, untuk mengetahui hasil belajar siswa pada siklus II ini.
Refleksi
Data  yang diperoleh pada tahap obsevasi dikumpul dan dianalisis, demikian pula untuk hasil evaluasinya.
Teknik Pengumpilan Data
Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan adalah sebagai bewrikut :
  1. Data hasil belajar diambil dengan memberikan tes kepada siswa
  2. Data tentsng situasi belajar pada saat dilaksanakannya tindakan diambil dengan observasi.
Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis perilaku siswa kelas IX SMP Negeri 1 Bone-Bone selama proses belajar mengajar berlangsung. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis hasil belajar matematika siswa melalui pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses.
Penelitian yang digunakan untuk menentukan kategori adalah berdasarkan teknik kategori yang sitetapkan departemen pendidikan dan kebudayaan dikutip oleh Wahyuna (2004 : 23) adalah sebagai berikut :
No Nilai Kategori
1 2..
3.
4.
5.
8,5 – 10,00 6,6 – 8,4
5,5 – 5,4
3,5 – 5,4
0 – 3,4
Sangat tinggi Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat tendah
Indikator Kerja
Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1 Bone-Bone setelah menerapkan pembelajaran dengan metosde pendekatan keterampilan proses.
DAFTAR PUSTAKA
Darmin, E .T , 2003. Belajar Dan Pembelajaran. Surabaya. Terbit Terang.
Hamalik, Oemar . 1993. Media Pendidikan Cetakan ke Vi. Bandung : Citra Aditya.
Hudoyo, Herman, 1990 . Strategi Belajar Matematika. Malang : IKIP Malang.
Irfansyah, 2007. Meningkatkan Hasil Belajar Matematika dengan Menerapkan Pendekatan Open-Ended pada Siswa Kelas VII SMP Satria Makassar.
Skripsi. FMIPA UNM Makassar.
Muhkal, Mappaita. 1999. Modul Kuliah. Pengembangan Rencana Penbelajaran Matematika di SLTP dan SMU. Makassar : FMIPA UNM
Ruseffendi, 1998. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya Dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung : Tarsito
Slameto, 1991. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta :
Rineka  Cipta
Coni R. Semiawan, 1992. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional   Menjelang abad XXI. PT Grasindo, Jakarta.
Sudjana,1997. Penilaian proses belajar mengajar. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya
Suherman, Erman, dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung : JICA-UPI.
Subroto, B. Suryo, 1996. Proses Belajar Mengajar Disekolah. Jakarat. Rineka Cipta
Supardi, 1999. Hubungan Kreativitas dan Keterampilan Proses Dengan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas III SLTP Negeri 1 Bantaeng tahun pelajaran 1998/1999. skripsi FMIPA UNM Makassar.

0 Proposal Skripsi Geografi : Peningkatan Hasil Belajar Geografi Melalui Pembelajaran Think-Pair-Share

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Di era reformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, perbaikan kegiatan belajar dan mengajar harus diupayakan secara maksimal agar mutu pendidikan meningkat, hal ini dilakukan karena majunya pendidikan membawa implikasi meluas terhadap pemikiran manusia dalam berbagai bidang sehingga setiap generasi muda harus belajar banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan tuntunan zaman. Menurut Mudyahardjo (2002), arti pendidikan ada dua yaitu definisi pendidikan secara luas yaitu segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap selama ada pengaruh lingkungan baik yang khusus diciptakan untuk pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya. Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar yaitu pertumbuhan, sama dengan tujuan hidup. Definisi pendidikan secara sempit adalah sekolah dimana pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka.
Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa. Seorang guru dituntut untuk teliti dalam memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menciptakan kegiatan belajar mengajar yang mampu menciptakan hasil belajar yang efektif merupakan tugas dan kewajiban guru. Menurut Slameto (2003),
Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar disebabkan kurang hubungan komunikasi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya sehingga proses interaksi menjadi vakum. Bila siswa mendengarkan informasi dari guru, keterlibatan dalam proses belajar mengajar boleh dikatakan tidak ada, kalaupun siswa terlibat maka keterlibatan kurang sekali. Misalnya, siswa terlibat hanya sebatas menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hal tersebut terjadi siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar yang proses belajar mengajarnya berlangsung secara monoton tanpa adanya hubungan yang komunikatif antara siswa dengan guru serta siswa dengan siswa yang lain bahkan menimbulkan rasa bosan pada siswa saat mengikuti proses belajar mengajar, hal tersebut disebabkan oleh guru karena melaksanakan PBM dengan menggunakan metode mengajar yang sering di pakai seperti metode ceramah, dan menyuruh siswa untuk menyalin (tidak diketahui metode apa tersebut), selain itu siswa jarang melakukan proses belajar mengajar dengan metode yang lain yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah, ini terlihat pada saat peneliti melakukan observasi awal di lokasi penelitian.
Untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pengajaran sehingga dalam perbaikan proses pengajaran ini peranan guru sangat penting, selaku pengelola kegiatan siswa, guru juga diharapkan membimbing dan membantu siswa.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu jenis khusus dari aktivitas kelompok yang berusaha untuk memajukan pembelajaran dan keterampilan sosial dengan kerjasama, tiga konsep ke dalam pengajaran, yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban pribadi dan peluang yang sama untuk berhasil. Pada pembelajaran kooperatif ditekankan bahwa untuk dapat menguasai struktur kognitif yang mendasari mata pelajaran tertentu, maka siswa harus bekerja.
Salah satu pembelajaran kooperatif adalah kooperatif tipe Think-Pair-Share yang merupakan suatu strategi mengajar yang diterapkan oleh guru agar pengajaran dapat berlangsung lebih efektif dan efisien yang di dalamnya terdapat  langkah-langkah yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran  yang tersusun secara rapi dan logis sehingga tujuan pembelajaran yang diterapkan dapat tercapai. Pembelajaran kooperatif ini merupakan salah satu pembelajaran dimana guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil yang heterogen.
Melalui pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share, diharapkan siswa dapat berperan aktif dan menghilangkan kejenuhan pada saat mengikuti pengajaran serta berpikir secara mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami, sehingga siswa diharapkan tertarik untuk mengulang pengajaran di rumah untuk mempersiapkan diri mengikuti pelajaran di kelas pada pertemuan berikutnya. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat terwujud.
Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini dirumuskan, yaitu Apakah ada peningkatan hasil belajar geografi melalui pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar geografi melalui pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar?
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai landasan bagi guru mata pelajaran geografi di sekolah lokasi penelitian dalam mengambil langkah-langkah perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran dengan penerapan metode Think-Pair-Share.
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka yang diuraikan dalam penelitian ini pada dasarnya dijadikan acuan untuk mendukung dan memperjelas penelitian ini. Sehubungan dengan masalah yang diteliti, kerangka teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini diuraikan sebagai berikut.
Tinjauan Tentang Belajar dan Mengajar
Menurut Ali (2004), proses belajar mengajar yang merupakan formal di sekolah di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu : (1) guru, (2) isi atau materi pelajaran dan (3) siswa. Interaksi antara ketiga komponen utama melibatkan sarana dan prasarana seperti metode, media, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi belajar-mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan demikian, guru yang memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, setidak-tidaknya menjalankan tiga macam tugas utama, yaitu merencanakan, melaksanakan pengajaran dan memberikan balikan.
Bila terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses mengajar. Hal ini kiranya mudah dipahami, karena bila ada yang belajar sudah barang tentu ada yang mengajarnya, dan begitu pula sebaliknya kalau ada yang mengajar tentu ada yang belajar. Kalau sudah terjadi suatu proses/saling interaksi, antara yang mengajar dengan yang belajar, sebenarnya berada pada suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak sengaja, masing-masing pihak berada dalam suasana belajar. Jadi guru walaupun dikatakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung juga melakukan belajar.
Belajar
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya         (Slameto, 2003).
Teori belajar sangat beraneka ragam. Setiap teori mempunyai landasan sebagai dasar perumusan. Bila ditinjau dari landasan itu, teori belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu teori asosiasi dan gestlat. Kedua macam teori inilah yang banyak berkembang melalui berbagai penelitian maupun eksperimen para ahli, sehingga muncul berbagai macam teori yang beraneka ragam (Ali, 2004).
Ada beberapa teori yang berpendapat bahwa proses belajar pada prinsipnya bertumpu pada struktur kognitif, yakni penataan fakta, konsep serta prinsip-prinsip, sehingga membentuk satu kesatuan yang memiliki makna bagi subjek didik. Teori semacam ini boleh diterima dengan suatu alasan bahwa dari struktur kognitif itu dapat mempengaruhi perkembangan afeksi ataupun penampilan seseorang   (Sardiman, 2005).
Dalam praktek pengajaran, penggunaan suatu dasar teori untuk segala situasi merupakan tindakan kurang bijaksana. Tidak ada suatu teori belajar pun yang cocok untuk segala situasi. Karena masing-masing mempunyai landasan yang berbeda dan cocok untuk situasi tertentu. Robert M Gagne yang dikutip ke dalam buku Ali mencoba melihat berbagai macam teori belajar dalam satu kebulatan yang saling melengkapi dan tidak bertentangan. Menurut Gagne belajar mempunyai delapan tipe. Ke delapan tipe itu bertingkat-ada hiararchi dalam masing-masing. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. Adapun tipe yang dimaksud, yaitu belajar isyarat, belajar stimulus, belajar rangkaian, Asosiasi verbal, belajar diskriminasi, belajar konsep, belajar aturan dan belajar pemecahan masalah.
Belajar terjadi bila seseorang menghadapi suatu yang di dalamnya ia tak dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan bentuk-bentuk kebiasaan untuk menghadapi tantangan-tantangan, atau apabila ia harus mengatasi rintangan-rintangan dalam aktivitasnya (Sahabuddin, 2003).
Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku si subjek belajar. Ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor yang berpengaruh itu, secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor intern  diri si subjek belajar dan faktor ekstern si subjek belajar.
Hasil belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang terjadi pada diri seseorang yang melakukannya. Dimana interaksi individu dalam lingkungan yang membawa perubahan sifat, tindakan, perbuatan, dan tingkah laku.
Belajar pada dasarnya proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman dan sebagai hasil dari interaksi dalam lingkungannya. Unsur lingkungan yang disebutkan  pada hakikatnya berfungsi sebagai lingkungan belajar seseorang, yakni lingkungan tempat ia tinggal dan berinteraksi sehingga menumbuhkan kegiatan belajar pada dirinya.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar oleh individu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya yang bersifat relatif permanen.
Mengajar
Masalah mengajar telah menjadi persoalan para ahli pendidikan sejak dahulu sampai sekarang. Pengertian mengajar mengalami perkembangan, bahkan hingga dewasa ini belum ada definisi yang tepat bagi semua pihak mengenai mengajar itu. Pendapat yang dilontarkan oleh para pendidik ialah untuk mendapatkan jawaban tentang apakah mengajar itu?. Kegagalan mengajar dapat terjadi bila tidak diperhatikan gaya belajar siswa (Nasution, 2005).
Menurut Sahabuddin (2003) dikutip dari William C. Morse dan G. Max Wingo (1962), tiga macam definisi mengajar, yaitu definisi mengajar secara tradisional adalah proses memberikan kepada pelajar pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menguasai mata-mata pelajaran yang telah ditentukan, definisi mengajar secara tradisional adalah menunjukkan bagaimana mengerjakan; menjadikan mengerti; memberi instruksi kepada dan definisi mengajar secara mutakhir yaitu sistem kegiatan untuk membimbing anak sebagai individu dan sebagai kelompok dengan maksud terpenuhinya kelengkapan pengalaman belajar yang memungkinkan setiap anak dapat berkembang terus secara teratur mencapai kedewasaannya.
Menurut Sudjana (1989), mengajar pada hakekatnya adalah proses yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.
Mengajar pada hakekatnya bermaksud mengantarkan siswa mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam praktek, perilaku mengajar yang dipertunjukkan guru sangat beraneka ragam, meskipun maksudnya sama. Aneka ragam perilaku guru mengajar ini bila ditelusuri akan diperoleh gambaran dan siswa (Ali, 2004).
Gaya mengajar yang dimiliki oleh seorang guru mencerminkan pada cara melaksanakan pengajaran, sesuai dengan pandangannya sendiri. Di samping itu landasan psikologis, terutama teori belajar yang dipegang serta kurikulum yang dilaksanakan juga turut mewarnai gaya mengajar guru yang bersangkutan.
Pengajaran adalah suatu usaha manusia yang bersifat kompleks, oleh sebab banyaknya nilai-nilai dan faktor-faktor manusia yang turut terlibat di dalamnya. Dikatakan sangat penting, sebab pengajaran adalah usaha membentuk manusia yang baik. Kegagalan pengajaran dapat merusak satu generasi masyarakat (Oemar, 2001).
Mengajar pada hakekatnya adalah proses penyampaian pengetahuan/ pengalaman pada peserta didik sedemikian rupa sehingga mereka dapat mencapai tujuan-tujuan belajarnya, pengajar mencoba menolong, membimbing, dan memotivasi peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan sesuai dengan tujuan belajarnya. Mengajar bukan hanya berupa pemberian materi kepada peserta didik, melainkan juga merupakan proses yang mengacu pada hasil belajar yang ingin dicapai oleh peserta didik.
Di dalam proses penyampaian pengetahuan kepada peserta didik pengajar menggunakan metode. Menurut Nana (2005) ketepatan penggunaan metode mengajar tersebut sangat bergantung pada tujuan, isi proses belajar mengajar dan kegiatan belajar mengajar. Ditinjau dari segi penerapannya, metode-metode mengajar ada yang tepat digunakan untuk siswa dalam jumlah besar dan ada yang tepat untuk siswa dalam jumlah kecil. Ada juga yang tepat gunakan di dalam kelas atau di luar kelas. Metode-metode mengajar yang sering digunakan sampai saat ini adalah metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode tugas belajar dan resitasi, metode kerja kelompok, metode demonstrasi dan eksperimen, metode sosiodrama, metode problem solving, metode sistem regu, metode karyawisata, metode resource person, dan metode simulasi.
Jika seorang guru merasa bertanggung jawab atas penyempurnaan pengajarannya, maka ia harus mengevaluasi pengajarannya itu agar ia mengetahui perubahan apa yang seharusnya diadakan. Siswa juga harus dievaluasi. Suatu kebiasaan aneh dalam metodologi pengajaran yaitu bahwa dua tugas yang sangat penting ini pada umumnya dipandang secara terpisah (Popham, 2005).
Tinjauan Umum Tentang Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum  yang menuntut aktivitas, kreativitas, dan kearifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan secara efektif dan menyenangkan. Pada buku Mulyasa (2006), Saylor mengatakan bahwa ” Instruction is thus the implementation of curriculum plan, usually, but not necessarily, involving teaching in the sense of student, teacher interaction in an educational setting”. Dalam hal ini, guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian ketika peserta didik belum dapat membentuk kompetensi dasar.
Menurut Mulyasa (2006) bahwa proses dan hasil belajar peserta didik bergantung pada  kompetensi guru dan keterampilan mengajarnya. Oleh karena itu, guru harus mampu mengaktualisasikan dalam pembelajaran. Dalam hal ini, guru harus mampu menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Pembelajaran aktif merupakan  pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan. Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas peserta didik selama pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik.
Menurut Nur, dkk (2000), semua model mengajar ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (reward). Struktur tugas mengacu kepada dua hal, yaitu pada cara pembelajaran itu diorganisasikan dari jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa di dalam kelas. Hal ini berlaku pada pengajaran klasikal maupun pengajaran dengan kelompok kecil, siswa diharap melakukan apa selama pengajaran itu.
Dalam penerapan pembelajaran kooperatif dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama., mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pendekatan konstruktivistik. Model pembelajaran mengacu pada metode pembelajaran dimana peserta didik bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar (Nurhayati dan Wellang, 2004).
Menurut Nurhayati dan Wellang (2004), dalam pembelajaran kooperatif guru mempunyai peranan diantaranya (1) Mengorganisasikan materi pelajaran; (2) Menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan peserta didik; (3) Mengorganisasikan peserta didik; (4) menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik; (5) Membentuk kelompok siswa yang heterogen; (6) Memberi petunjuk secara tertulis kepada peserta didik. Selain itu peserta didik juga mempunyai peranan diantaranya adalah sebagai berikut : (1) Para peserta didik bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya, (2) Para peserta didik diharapkan menjadi aktif, bertanggung jawab, bekerjasama, dan penuh kepedulian; (3) Para peserta didik berlatih menilai kemajuan belajarnya dan merenungkan dirinya melalui tujuan kelompok ; (4) Para peserta didik dapat memberi umpan-balik terhadap sesamanya dan dapat terampil menilai dirinya sendiri.
Ciri khas pembelajaran kooperatif adalah peserta didik ditempatkan pada kelompok- kelompok kerja dan tinggal bersama sebagai satu kelompok atau beberapa minggu atau beberapa bulan. Mereka dilatih keterampilan-keterampilan spesifik untuk membantu mereka bekerja sama dengan baik. Misalnya menjadi pendengar yang baik dan sebagainya.
Pembelajaran kooperatif dapat dibedakan menjadi beberapa model diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Student Teams Achievement Division (STAD).
  2. Jiksaw
  3. Think-Pair-Share
  4. Numbered heads together
Tinjauan Tentang Metode Pembelajaran Think-Pair-Share
Strategi berpikir secara berpasangan berkembang dari penelitian belajar kooperatif. Pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dan di Universitas Maryland pada tahun 1985 yang dikutip dalam buku Nur, dkk (2000), menyatakan bahwa strategi ini menentang asumsi bahwa berpikir kolegannya secara berpasangan merupakan suatu cara yang efektif untuk mengubah pola diskursus dalam kelas. Strategi menentang asumsi bahwa semua resitasi dalam diskusi perlu dilakukan dalam setting seluruh kelompok. Berpikir secara berpasangan memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa lebih banyak berpikir, menjawab dan saling membantu  satu sama lain.
Andaikan guru baru saja melakukan penyajian singkat, atau siswa telah membaca suatu tugas, atau suatu situasi penuh teka-teki telah ditemukan. Kemudian guru menginginkan siswa memikirkan secara mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami. Frank Lyman memilih menggunakan strategi berpikir secara berpasangan sebagai gantinya tanya jawab seluruh siswa. Menurut Nur, dkk (2000), bahwa langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share secara sederhana digambarkan sebagai berikut :
Tahap 1:    Think (berpikir). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan konsep pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat. Berpikir dapat ditandai dengan siswa mampu bertanya tulisan, bertanya lisan, menjawab pertanyaan, dan berpendapat.
Tahap 2:    Pairing (berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat dibagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberi waktu 45 menit untuk berpasangan.
Tahap 3:    Share (berbagi). Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan berbagi untuk seluruh kelompok tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai akhir seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Tinjauan Tentang Hasil Belajar
Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti serangkaian kegiatan instruksional tertentu. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa erat kaitannya dengan rumusan instruksional yang direncanakan oleh guru sebelumnya. Hasil dan bukti belajar ialah adanya perubahan tingkah laku orang yang belajar yang terjadi karena proses kematangan dan hasil belajar bersifat relatif menetap, misalnya dati tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Menurut Mudjiono (2000), bahwa hasil dan bukti belajar adalah adanya perubahan tingkah laku orang yang belajar.
Menurut Howard Kingsley (Sudjana, 1989), ada tiga macam hasil belajar yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita, yang masing-masing dapat golongan, dapat diisi dengan bahan yang diterapkan dalam kurikulum sekolah. Benyamin Bloom  berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang hendak kita capai terdiri dari tiga bidang, yaitu bidang kognitif, bidang afektif, dan bidang psikomotorik.
Setiap kegiatan yang berlangsung pada akhirnya kita ingin mengetahui hasilnya, demikian pula dengan pembelajaran. Untuk mengetahui hasil kegiatan pembelajaran, harus dilakukan pengukuran dan penilaian. Pengukuran adalah suatu usaha untuk mengetahui sesuatu seperti apa adanya, sedangkan penilaian adalah usaha yang bertujuan untuk mengetahui keberhasilan belajar dalam penguasaan kompetensi (Haling, 2002). Dengan demikian pengukuran hasil belajar adalah suatu usaha untuk mengetahui kondisi status kompetensi dengan menggunakan alat ukur sesuai dengan apa yang diukur, sedangkan penilaian adalah usaha untuk membandingkan hasil pengukuran dengan patokan yang ditetapkan.
Pencapaian hasil belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga tidaklah mengherankan apabila hasil belajar dari sekelompok siswa bervariasi. Setiap siswa dalam sistem pengajaran memiliki karakteristik tertentu yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya, misalnya minat, motivasi, serta kemampuan kognitif yang dimilikinya. Faktor-faktor lain yang sengaja dirancang dan dimanipulasi misalnya bahan pelajaran. Guru memberikan pelajaran merupakan suatu faktor yang sangat berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar siswa.
Beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, kelas terlihat perbedaan kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yakni hasil yang telah dicapai dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan dan menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan, baik secara individu maupun secara kelompok dalam kegiatan tertentu.
Kerangka Berpikir
Proses belajar mengajar (PBM) dipandang berkualitas jika berlangsung efektif, bermakna dan ditunjang oleh sumber daya yang wajar. Proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil jika siswa menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar yang harus dikuasai dengan sasaran dan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu guru sebagai pendidik bertanggung jawab merencanakan dan mengelola kegiatan-kegiatan belajar mengajar sesuai dengan tuntutan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada setiap mata pelajaran.
Di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisiensi, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu strategi yang harus dimiliki oleh guru adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasa disebut metode mengajar.
Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara mengajar yang dipergunakan oleh guru untuk menyajikan pelajaran kepada siswa di dalam kelas yang diharapkan dapat memotivasi siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan, menjawab pertanyaan, memecahkan masalah dan bersikap.
Berbagai macam-macam teknik mengajar, ada yang menekankan peranan guru yang utama dalam pelaksanaan penyajian, ada pula yang menekankan pada media hasil teknologi, ada pula teknik penyajian yang hanya digunakan untuk sejumlah siswa yang terbatas dan yang tidak terbatas, teknik penyajian di dalam dan di luar kelas, dan lain sebagainya. Setiap teknik tersebut memiliki ciri khas dan tujuan tersendiri, sehingga dalam memilih teknik pengajaran harus tetap bertolak pada tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran serta kesesuaian materi dengan metode yang diterapkan.
Dengan metode pembelajaran Think-Pair-Share, diharapkan siswa dapat lebih berminat dalam belajar mata pelajaran geografi dan dapat memberikan solusi dalam memahami materi, serta memberikan keaktifan, perhatian, belajar memecahkan masalah yang dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa dalam rangka perbaikan proses belajar mengajar. Dengan demikian diharapkan agar siswa dapat meningkatkan prestasinya.
Hipotesis
Hipotesis yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah Jika pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share diterapkan maka ada peningkatan hasil belajar pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan tahapan-tahapan pelaksanaan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi.
Variabel Penelitian
Pada penelitan ini ada dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yaitu pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share sedangkan variabel terikat yaitu hasil belajar siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar.
Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran mengenai variabel dalam penelitian ini, maka peneliti memperjelas definisi operasional variabel dan perlakuan yang dimaksud.
  1. 1. Pembelajaran kooperatif Tipe Think-Pair-Share adalah merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif dimana siswa sebagai peserta didik yang berpikir, berbagi dan dibagi kelompok yang terdiri dari dua orang.
  2. 2. Hasil belajar
Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar terhadap mata pelajaran geografi yang meliputi aspek ingatan, pemahaman dan penerapannya.
Prosedur Penelitian
Siklus I
Tahap Perencanaan Tindakan
  1. Peneliti bersama guru bidang studi mendiskusikan masalah-masalah berdasarkan hasil observasi yang dijumpai pada proses belajar mengajar.
  2. Menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan.
  3. Menyusun RPP.
  4. Mempersiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar.
  5. Membuat tes siklus I sebagai alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang diajarkan pada siklus I.
Tahap Pelaksanaan Tindakan
  1. Mempersiapkan semua perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam kelas.
  2. Menyampaikan materi secara singkat dengan metode ceramah.
  3. Memberikan pertanyaan kepada siswa untuk dipikirkan (berpikir dapat ditandai dengan siswa mampu bertanya, menjawab dan berpendapat).
  4. Membagi siswa ke dalam kelompok dan tiap satu kelompok terdiri dari 2 orang untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan sebelumnnya dari pertanyaan guru selama 10 menit.
  5. Setelah selesai diskusi, guru meminta kepada pasangan berbagi untuk seluruh kelompok tentang apa yang telah dipikirkan sebelumnya dengan cara setiap kelompok bergiliran untuk mempersentasekan.
  6. Membuat kesimpulan dari semua pertanyaan yang sudah didiskusikan.
Tahap Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini ada dua perlakuan yaitu obesrvasi dan evaluasi. Pelaksanaan tahap observasi terhadap aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar yang  menggunakan lembar observasi dengan tujuan untuk melihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dengan cara mengamati dan mencatat aktivitas siswa selama pelaksanaan proses belajar mengajar.  Pelaksanaan evaluasi memberikan tes hasil belajar yang dilakukan pada akhir tindakan siklus I dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
Analisis dan Refleksi
Hasil yang dicapai dalam tahap observasi dan evaluasi dikumpul kemudian dilakukan analisis dan refleksi. Refleksi dimaksudkan untuk melihat apakah rencana telah terlaksana secara optimal atau perlu dilakukan perbaikan. Aspek-aspek yang dianggap bagus tetap dipertahankan, sedangkan kekurangannya menjadi pertimbangan dan revisi pada siklus berikutnya yang masih merupakan masalah dalam siklus I seperti:
  1. Masih ada siswa yang sulit berinteraksi dan kurang aktif dalam pembelajaran sehingga akan diupayakan memberi perhatian khusus dalam kegiatan belajar mengajar.
  2. Hasil belajar siswa masih tergolong rendah , sehingga pada siklus II akan diupayakan agar perhatian siswa lebih fokus dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan.
Siklus II
Pelaksanaan tindakan siklus II ini relative sama dengan pelaksanaan tindakan siklus I. Namun dalam pelaksanaan ini dilakukan perbaikan-perbaikan dari siklus I sehingga aktivitas siswa dalam belajar lebih meningkat. Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan siklus II, yaitu:
Tahap Perencanaan Tindakan
  1. Mempersiapkan perangkat pembelajaran .
  2. Mempersiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar.
  3. Membuat tes siklus II sebagai alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang diajarkan pada siklus I.
Tahap Pelaksanaan Tindakan
  1. Mempersiapkan semua perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam kelas.
  2. Menyampaikan materi secara singkat dengan metode ceramah.
  3. Memberikan pertanyaan kepada siswa untuk dipikirkan (berpikir dapat ditandai dengan siswa mampu bertanya, menjawab dan berpendapat).
  4. Membagi siswa ke dalam kelompok dan tiap satu kelompok terdiri dari 2 orang untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan sebelumnnya dari pertanyaan guru selama 10 menit.
  5. Setelah selesai diskusi, guru meminta kepada pasangan berbagi untuk seluruh kelompok tentang apa yang telah dipikirkan sebelumnya dengan cara setiap kelompok bergiliran untuk mempersentasekan.
6. Membuat kesimpulan dari semua pertanyaan yang sudah didiskusikan.
Tahap Observasi dan Evaluasi
Melakukan observasi aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar dengan menggunakan lembar observasi untuk melihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa.  Melakukan evaluasi dengan menggunakan tes berupa pilihan ganda pada akhir tindakan siklus II dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
Analisis dan Refleksi
Hasil yang dicapai dalam tahap observasi dan evaluasi akan dianalisis dan merupakan hasil akhir pelaksanaan tindakan siklus II yang telah dilakukan. Kemudian melakukan refleksi dengan maksud untuk melihat apakah rencana telah terlaksana secara optimal atau perlu dilakukan perbaikan. Apabila dalam tindakan siklus II masih ada kekurangan maka akan dilaksanakan siklus berikutnya untuk melakukan perbaikan.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar dengan jumlah siswa sebanyak 43 orang dengan 23 laki-laki dam 20 perempuan.
Tempat Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan kegiatan di Kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar Propinsi Sulawesi Selatan. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Juli sampai September 2008.
Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. 1. Data tentang aktifitas belajar mengajar diambil pada saat dilaksanakan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
  2. 2. Data mengenai hasil belajar diambil dari tes tiap siklus. Tes tersebut dibuat oleh peneliti dalam bentuk soal pilihan ganda.
Teknik Analisis Data
Data hasil belajar siswa berupa tes akan dianalisis dengan menggunakan skor yang berdasarkan penilaian acuan patokan, dihitung berdasarkan skor maksimal yang mungkin dicapai oleh siswa. Nilai yang diperoleh dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Pedoman pengkategorian hasil belajar siswa  yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Di samping itu juga dideskripsikan hasil pengamatan aktifitas pembelajaran dan perilaku siswa yang diketahui dari hasil pengamatan dengan menggunakan lembar observasi yang terjadi pada pelaksanaan proses belajar mengajar.
Tabel. 1. Tingkat penguasaan dan kategori hasil belajar siswa
Tingkat Penguasaan Kategori
8,0-10 Sangat Tinggi
6,6-7,9 Tinggi
5,6-6,5 Sedang
40-5,5 Rendah
0-3,9 Sangat Rendah
(Arikunto, 2005)
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. 2004. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar baru Albensindo. Bandung.
Arikunto Suharsimi, Suhardjono dan Supardi. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta
Hamalik, O. 2002. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara, Jakarta.
Mudyahardjo, R. 2002. Pengantar Pendidikan “Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Pendidikan Pada Umumnya Dan Pendidikan di Indonesia”. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Mulyasa. E,. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan “Pengembangan Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar”. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Nana, S. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar baru Albensindo. Bandung
Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Popham W. James, Eval, Baker. 2005. Teknik Mengajar Secara Sistematik. Rineka Cipta. Jakarta.
Sahabuddin. 2003. Mengajar dan Belajar “Dua Aspek Dari Suatu Proses Yang Disebut Pendidikan”. Badan Penerbit Kampus Gunung Sari UNM. Makassar.
Sardiman, A. M. 2006. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta.
Sudjana, N. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru. Bandung.

0 Contoh Proposal Skripsi Hukum : Pembatalan Perkawinan Menurut Undang-Undang Perkawinan

Pembatalan Perkawinan Menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 (Studi Kasus di Pengadilan Agama Tana Toraja)
A.  Latar Belakang    
Hampir semua mahluk ciptaan Allah swt, di atas dunia ini bila hendak mengembangbiakkan keturunannya dilalui dengan proses perkawinan. Demikian halnya dengan manusia sebagai salah satu diantara mahluk  ciptaanNya dalam melangsungkan keturunannya melalui suatu wadah perkawinan. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah Swt dalam QS. An-Nisa (4) :1
Terjemahan :
‘Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan daripadanya Allah menciptakan istri dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. [1]
Perbedaan antara proses perkawinan manusia dengan mahluk lainnya terletak pada nilai sebuah perkawinan. Manusia sebagai mahluk yang termulia. Memandang perkawinan itu mengandung nilai spiritual yang datangnya dari Allah yang terdapat dalam ajaran agama. Contoh Proposal Skripsi Hukum
Sedang mahluk selain manusia hanya menggunakan perkawinan sebagai alat untuk berkembang biak saja. Hal ini dikarenakan manusia dikarunia oleh Allah Swt berupa akal pikiran sedang mahluk lainnya tidak dikaruniai.
Sebagai Negara yang berdasarkan pancasila, dimana sila yang pertamanya ialah Ketuhan Yang Maha Esa, makanya perkawinan mempunyai hubungan yang erat dengan agama atau kerohanian, sehingga perkawinan bukan hanya sekedar mempunyai unsur jasmani saja akan tetapi unsur kerohanian juga mempunyai peranan penting. Hal ini mempunyai hubungan erat dengan tujuan dari sebuah perkawinan yaitu untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera serta kekal berdasarkan Ketuhahan Yang Maha Esa.
Namun perkawinan tidak semuanya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, terkadang harus putus ditengah jalan apakah sebab perceraian itu karena cerai talak, cerai gugat, fasid nikah, fasakh nikah, atau pembatalan sebuah perkawinan. Berbicara tentang pembatalan perkawinan yang diatur dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan di Indonesia maka dalam skripsi ini penulis mencoba  melihat praktek pembatalan perkawinan pada Pengadilan Agama Tana Toraja.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang di atas maka timbul satu masalah pokok yaitu bagaimana Praktek Pembatalan Perkawinan Menurut Undang-Undang di Indonesia.
Dengan adanya masalah pokok diatas maka dapat pula dikemukakan dua sub masalah, yaitu :
  1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan Pembatalan Perkawinan di Pengadilan Agama Tana Toraja
  2. Bagaimana upaya Pengadilan Agama Tana Toraja menerapkan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia dalam Pelaksanaan Pembatalan Perkawinan. Contoh Proposal Skripsi Hukum
C.  Hipotesis
adalah tidak adanya izin untuk berpolygami atau izin untuk beristeri lebih dari satu orang, dalam hal ini pihak suami telah melakukan suatu perkawinan baru dengan seorang wanita tanpa sepengeta­huan dari isterinya yang sah. Untuk memberikan gambaran permasalahan di atas, maka dapatlah dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
  1. Faktor-faktor menyebabkan pembatalan perkawinan di Pengadilan Agama Tana Toraja yaitu adalah tidak adanya izin untuk berpolygami atau izin untuk beristeri lebih dari satu orang, dalam hal ini pihak suami telah melakukan suatu perkawinan baru dengan seorang wanita tanpa sepengeta­huan dari isterinya yang sah.
2.   Dalam hal penerapan Undang-Undang no.1 tahun 1974 terhadap pembatalan perkawinan di Pengadilan Agama di Tana Toraja ternyata tidak sepenuhnya melaksanakan prosedur sebagaimana yang telah diatur dalam UU no.1 Thn 1974.
D.  Pengertian Judul
Untuk memproleh pemahaman yang lebih jelas dari judul praktek pembatalan perkawinan menurut undang-undang no.1 tahun 1974 pada Pengadilan Agama Tana Toraja. Maka terlebih dahulu akan dijelaskan bebepara kata yang digunakan dalam judul tersebut.
Kata Pembatalan diambil dari kata batal yang berarti tidak jadi, atau tidak sah.[2] “Perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan”. Contoh Proposal Skripsi Hukum
Jadi pembatalan yang dimaksud adalah membatalkan sebuah ikatan perkawinan  setelah adanya ijab kabul dan aqad nikah.
Perkawinan yang dimaksud dalam hal ini adalah :
Ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.[3]
Setelah kita mengenal pengertian dari kata yang digunakan dalam judul, maka dikaitkanlah dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan di Indonesia.
Ruang lingkup pembahasan dalam skripsi ini, terlebih dahulu melihat praktek pembatalan perkawinan di Pengadilan Agama Tana Toraja, kemudian diketengahkan menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 dan segala faktor penyebab timbulnya serta faktor pendukung dan penghambatnya.
Dari pengertian judul serta ruang lingkup pembahasan yang dikemukan diatas, maka defenisi operasionalnya adalah meneliti pelaksanaan Pembatalan Perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 pada Pengadilan Agama Tana Toraja serta faktor penyebab timbulnya dan faktor pendukung dan penghambatnya. Contoh Proposal Skripsi Hukum
E.  Tinjauan Pustaka
Drs. Ahmad Rafiq, M.A. dalam karyanya membahas tentang batalnya perkawinan serta usaha-usaha pencegahan dilakukan sebelum perkawinan dilangsungkan, dan langkah-langkah pembatalan setelah perkawinan selesai dilangsungkan, dan diketahui terdapat syarat-syarat yang tidak terpenuhi.
Drs. H.A. Mukti Arto, SH. Mengemukakan bahwa pasal 22 UU No.1/1974 menyatakan bahwa perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memenuhi syarat untuk melangsungkan perkawinan. Namun perkawinan yang tidak memenuhi syarat tidak sendirinya menjadi batal, melainkan harus diputuskan oleh Pengadilan.
Selain dari buku di atas, penulis juga mempersiapkan rujukan lain. Undang-Undang Perkawinan Di Indonesia, serta Komplasi Hukum Islam Di Indonesia. Dan buku-buku yang lain yang berkaitan dengan pembahasan ini.  Sehingga  penulis berharap mampu memaparkan Praktek Pembatalan  perkawinan di Pengadilan Agama Tana Toraja, serta faktor-faktor penyebab pembatalan Perkawinan di Tana Toraja, mengingat judul ini belum pernah ada yang  membahasnya dalam bentuk karya ilmiah,  sehingga memotifasi penulis untuk meneliti sejauh mana upayah yang dilakukan Pengadilan Agama Tana Toraja Menerapkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Pembatalan Perkawinan. Dan bagaimana eksistensi Undang Nomor 1 tahun 1974 dalam hal penyelesaian perkara perkawinan pada Pengadilan Agama secara keseluruhan. Contoh Proposal Skripsi Hukum
F.  Metode Penelitian
Untuk memudahkan penulis dalam memperoleh data yang konkrit sebagai pedoman dalam penulisan skripsi ini, maka penulis menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
1. Metode Pelaksanaan Penelitian
Dalam pelaksanaan ini, penulis menggunakan bentuk studi khusus yang membahas  kenyataan atau kejadian yang pernah dialami oleh Pengadilan Agama Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja
2.  Metode Pengumpulan Data
Dalam usaha pengumpulan data-data yang relevan dengan judul ini, penulis menggunakan metode:
a.      Library Research, yaitu suatu metode pengumpulan data dengan jalan membaca dan menelusuri literatur-literatur yang berkaitan dengan judul yang kebanyakan terdapat di perpustakaan-perpustakaan kemudian mengambil hal-hal yang dibutuhkan baik secara langsung maupun saduran.
b.      Field research, yaitu suatu metode pengumpulan data yang menggunakan dengan melakukan langsung kelapangan penelitian yang telah ditentukan dalam judul skripsi. Kemudian metode ini dapat digunakan tekhnik sebagai berikut:
  • Observasi yakni suatu metode pengumpulan data yang digunakan dengan jalan mengadakan pengamatan yang dilakukan secara langsung pada lokasi yang menjadi obyek atau sekarang menjadi penelitian.
  • Intrview yakni proses pengumpulan data dengan jalan mengadakan dialog atau tanya jawab secara langsung antara dua orang bertahap-tahap secara fisik. Dalam ini melalui orang-orang tertentu yang dianggap dapat memberikan data yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.
  • Dokumentasi adalah  cara  untuk  mengumpulkan  data  dengan  jalan  melihat  dokumen  atau  catatan yang  ada  pada  Pengadilan Agama Tana Toraja,  yang  berhubungan  dengan  penelitian  yang  dilakukan  dengan tujuan agar dokumen-dokumen tersebut dapat membantu dalam  memecahkan  masalah-masalah  dalam penelitian.
3.   Metode pengolahan dan analisis data
Dalam proses penulisan, penulis menggunakan beberapa metode pengolahan data dan analisis data:
  • Metode Deduktif, yaitu mengumpulkan data-data yang bersifat umum kemudian menarik kesimpulan yang khusus.
  • Metode Induktif, yaitu mengumpulkan data-data yang bersifat khusus, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum.
  • Metode Komparatif, yaitu perbandingan antara  data yang satu dengan data yang lainnya guna memperoleh suatu kesimpulan yang jelas terhadap kajian ini.
G.  Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penulisan
Secara umum skripsi ini adalah merupakan suatu persyaratan penyelesaian studi pada perguruan tinggi. Oleh karena itu penulis mempunyai suatu kewajiban secara formal terikat pada aturan-aturan perguruan tinggi tersebut. Namun secara khusus penelitian ini bertujuan :
Untuk mengetahui langkah-langkah Pengadilan Agama dalam Pembatalan Perkawinan di Kabupaten Tana Toraja.
2. Kegunaan Penulisan
Untuk mengetahui sejauhmana penerapan Undang-Undang No.1 1974 tentang perkawinan di Pengadilan Agama Tana Toraja. Contoh Proposal Skripsi Hukum
Selanjutnya kegunaan yang dapat diperoleh dari penulisan ini sebagai berikut :
  1. Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang mengadakan penelitian lebih jauh terhadap masalah ini dan sekaligus merupakan bahan pertimbangan bagi Pengadilan Agama Tana Toraja.
  2. Sebagai salah satu persyaratan dalam proses penyelesaian studi pada Fakultas Syari’ah UIN Alauddin Makassar.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Moh. Daud. Hukum Islam Dan Peradilan Agama. Cet I ; Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada, 1996.
Anwar Sitompul S.H. Kewenangan Dan Tata Cara Berperkara Di pengadilan Agama, Bandung, Armico, 1984
Anwar Hardjono DR., SH. Hukum Islam “Keluasan Dan Keadilannya”, Cet.II, PT. Bulan Bintang, jakarta. 1968
Chuzaimah T. Yanggo DR. H. Dan Drs. Drs. H. A. Hafiz Anshary. A. Z. MA. Problematika Hukum Islam Kontemporer. Cet. II, LSIK, Jakarta. 1996.
Cik Hasan Bisry, Drs. MS. Peradilan Agama Di Indonesia. Cet II, Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1998
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta : PT. Inter Masa. 1986)
Hadikusumah, Prof. H. Hilman, SH, Hukum Perkawinan Indonesia, Cet  II,  Mandar Maju Bandung 2003.
Hasbi Ash Siddieqy M. Hukum-Hukum Fiqih Islam, Cet. II, PT. Bulan Bintang, jakarta. 1965.
Izin Perkawinan Dan Perceraian Bagi Pegawai Negri Sipil, Jakarta, Ghalia Indonesia, Cet, II, 1985
Kompilasi Hukum Islam, Arkola.
Latief, H.M. Djamil, S.H. Kedudukan Dan Kekuasaan Peradilan Agama  Di Indonesia, Jakarta, Bulan Bintang, 1983.
Majid, Nurcholish. Masyarakat Religius. Cet, I; Jakarta: Paramadina, 1997
Nasution, Harun. Islam Rasional, Cet, IV; Bandung: Mizan, 1996.
Nur, Djamaan.  Fikhi Munakahat. Cet. I; Semarang: Toha Putra 1993
Ny, Sumiati. Hukum Perkawinan  Islam dan Undang-Undang Perkawinan .Cet, II; Yogyakarta: Liberty, 1986.
Rofiq, Drs. Ahmad, M.A. Hukum Islam Di Indonesia, Cet I, Raja Grafindo Persada Jakarta 1995.
Sayyid Sabik, Fikhu Sunnah, jilid 8, Bandung, Al- Ma`a rif , 1990.
Soerbekti, R. dan R. Tjitrosudibio. Kitab Undang-Undang Perdata, Djambata, 1981.
Undang-Undang Perkawinan Di Indonesia, Arkola..
W.J.S. Poerwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cet.X, Balai Pustaka, Jakarta. 1987.
Yunus, Mahmud. Hukum Perkawinan Dalam Islam, Cet. X; Jakarta: Hidakarya Agung,1983.
 (OUT LINE)
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
  2. Rumusan dan Batasan Masalah
  3. Hipotesis
  4. Pengertian Judul, Ruang Lingkup Pembahsan, dan Defenisi Opersional
  5. Metode Penelitian
  6. Tinjauan Pustaka
  7. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
  8. Kepustakaan
BAB II   PEMBATALAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1974
  1. Pengertian Pembatalan
  2. Syarat Terjadinya Pembatalan
  3. Alasan-Alasan Pembatalan
  4. Peranan Pengadilan Agama Tana Toraja terhadap Pembatalan Perkawinan
BAB  III   ANALISA KASUS
  1. Kasus I
  2. Kasus II
  3. Kasus III
BAB IV  PEMBATALAN PERKAWINAN PADA PAENGADILAN AGAMA TANA TORAJA
  1. Faktor-Faktor Penyebab Timbulnya Pembatalan Perkawinan
  2. Proses Penyelesaiaan
  3. Faktor Pendukung dan Penghambat Pembatalan Perkawinan
BAB V  P E N U T U P
  1. Kesimpulan
  2. Saran-Saran

[1] Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta : PT. Inter Masa. 1986) h. 114.
[2]W.J.S. Poerwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Cet: X; Jakarta, Balai Pustaka, Jakarta. 1987), hal.
[3]Lihat Undang-Undang Perkawinan No.1 Thn 1974, ( Arkola), h. 5.

Daftar Blog Saya

 

Selamat Datang Di ERICKVAND BLOG

Selamat datang di Blog saya, semoga saja kalian bisa mendapatkan apa yang kalian butuhkan diblog saya ini. Terima kasih Telah Berkunjung Di Blog saya,apabila berkenan silahkan berkomentar dan follow blog saya,mari kita saling berbagi ilmu tentang apa saja...

Sekilas tentang penulis

Nama saya Erickvand Tampilang,saya seorang Mahsiswa S1 pendidikan Biologi Diuniversitas Negeri Gorontalo.

Erick