Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label Proposal Skripsi PTK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proposal Skripsi PTK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2012

0 Proposal Skripsi Bahasa Inggris : Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Inggris melalui Penguasaan Grammar

Latar Belakang 

Bahasa adalah kebiasaan, semakin kerap bahasa digunakan maka semakin cepat seseorang menguasai bahasa tersebut. Untuk menggunakan bahasa Inggris yang baik dan benar sesuai kaidah yang ada, baik dalam percakapan yang sifatnya formal maupun dalam tulisan diperlukan pengetahuan luas yang mencakup beberapa hal, diantaranya gramatikal.
Penguasaan grammar merupakan salah satu kendala yang dialami oleh siswa dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris. Rendahnya hasil belajar siswa dapat disebabkan oleh banyak faktor demikan hal yang terjadi pada siswa kelas 1 SMP Negeri I Lambu Kabupaten Bima.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, apakah dengan penguasaan grammar dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris pada siswa kelas I SMP Negeri I Lambu

Tinjauan Pustaka
Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis di jenjang pendidikan, jadi gagal atau berhasilnya pencapaian tujuan pendidikan itu bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan.
Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling penting dalam pendidikan dapat dikatakan bahwa tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan.
Menurut Morgan (1986) belajar dapat didefinisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman
Menurut Raber (1988) learning is a relatively permanent change in response potentiality which occurs as a result of reinforced practice.
Ormrod (1995) mendeskripsikan adanya dua definisi belajar yang berbeda definisi pertama menyatakan bahwa learning is a relatively permanent change in behavior due to experience, sedangkan definisi yang kedua adalah “learning is a relatively permanent change in mental associations due to experience”.
Jadi, berdasarkan beberapa pendapat di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa belajar adalah korelasi antara perubahan kemampuan, perubahan perilaku karena pengalaman dan perubahan mental karena pengalaman jadi ketiga hal di atas merupakan suatu hal yang mendasar yang dihasilkan dalam belajar.
Hasil belajar bahasa Inggris
Hasil belajar bahasa Inggris merupakan salah satu tolak ukur berhasil atau tidaknya siswa dalam proses belajar mengajar, sebagai inti dari berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam belajar bahasa Inggris adalah terletak pada tata bahasanya. Belajar tata bahasa Inggris merupakan hal yang mutlak dalam meningkatkan belajar bahasa Inggris.

Metodologi Penelitian
Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tahapan-tahapan pelaksanaan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi secara berulang
Adapun prosedur dalam jenis penelitian ini adalah :
Perencanaan
Menyiapkan soal latihan yang akan diberikan di kelas pada saat proses belajar mengajar untuk lebih mengaktifkan siswa, dan memberikan bimbingan individu pada siswa yang mengalami kesulitan.
Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini tindakan yang dilakukan adalah dengan mengadakan perbaikan pada metode mengajar yang diterapkan
Tahap observasi
Tahap observasi dilaksanakan pada waktu proses belajar mengajar berlangsung, data yang diambil adalah kehadiran, keaktifan siswa dan memberi respon, bertanya dan menulis jawaban di papan tulis.
Tahap refleksi
Tahap pengalaman dari tiap-tiap kelompok dikumpulkan serta dianalisis, baik hasil evaluasi maupun data dari hasil observasi yang diperoleh pada saat melaksanakan pengajaran.

Tujuan dan Kegunaan
Tujuan
Secara operasional tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris siswa kelas I SMP Negeri I Lambu Kabupaten melalui penguasaan grammar
Kegunaan
Adapun kegunaannya adalah
  1. Untuk mengetahui apakah dengan penguasaan grammar dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada SMP 1 Negeri I Lambu.
  2. Meningkatkan kemampuan meneliti guru dalam mengatasi pembelajaran bahasa Inggris
Kesimpulan
Jadi  dengan penguasaan grammar yang bagus dan benar akan meningkatkan hasil belajar siswa khususnya dalam belajar bahasa Inggris. Jadi pada dasarnya belajar grammar sangat penting dalam penguasaan bahasa Inggris karena grammar merupakan tahap pertama untuk menguasai bahasa Inggris. Jadi pada kesimpulannya penguasaan grammar itu sangat dibutuhkan.

Daftar Pustaka
Oeman, Hamalik. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung; CV. Sinar Harapan Baru, 1987
 Azhan, Akyas, Psikologi Pendidikan. Semarang. Dina Utami, 1996.
Kardimin, Akhmad Tata Bahasa Inggris. Yogyakarta; Pustaka Belajar. 2003.

0 Proposal Skripsi Geografi : Peningkatan Hasil Belajar Geografi Melalui Pembelajaran Think-Pair-Share

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Di era reformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, perbaikan kegiatan belajar dan mengajar harus diupayakan secara maksimal agar mutu pendidikan meningkat, hal ini dilakukan karena majunya pendidikan membawa implikasi meluas terhadap pemikiran manusia dalam berbagai bidang sehingga setiap generasi muda harus belajar banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan tuntunan zaman. Menurut Mudyahardjo (2002), arti pendidikan ada dua yaitu definisi pendidikan secara luas yaitu segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap selama ada pengaruh lingkungan baik yang khusus diciptakan untuk pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya. Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar yaitu pertumbuhan, sama dengan tujuan hidup. Definisi pendidikan secara sempit adalah sekolah dimana pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka.
Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa. Seorang guru dituntut untuk teliti dalam memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menciptakan kegiatan belajar mengajar yang mampu menciptakan hasil belajar yang efektif merupakan tugas dan kewajiban guru. Menurut Slameto (2003),
Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar disebabkan kurang hubungan komunikasi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya sehingga proses interaksi menjadi vakum. Bila siswa mendengarkan informasi dari guru, keterlibatan dalam proses belajar mengajar boleh dikatakan tidak ada, kalaupun siswa terlibat maka keterlibatan kurang sekali. Misalnya, siswa terlibat hanya sebatas menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hal tersebut terjadi siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar yang proses belajar mengajarnya berlangsung secara monoton tanpa adanya hubungan yang komunikatif antara siswa dengan guru serta siswa dengan siswa yang lain bahkan menimbulkan rasa bosan pada siswa saat mengikuti proses belajar mengajar, hal tersebut disebabkan oleh guru karena melaksanakan PBM dengan menggunakan metode mengajar yang sering di pakai seperti metode ceramah, dan menyuruh siswa untuk menyalin (tidak diketahui metode apa tersebut), selain itu siswa jarang melakukan proses belajar mengajar dengan metode yang lain yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah, ini terlihat pada saat peneliti melakukan observasi awal di lokasi penelitian.
Untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pengajaran sehingga dalam perbaikan proses pengajaran ini peranan guru sangat penting, selaku pengelola kegiatan siswa, guru juga diharapkan membimbing dan membantu siswa.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu jenis khusus dari aktivitas kelompok yang berusaha untuk memajukan pembelajaran dan keterampilan sosial dengan kerjasama, tiga konsep ke dalam pengajaran, yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban pribadi dan peluang yang sama untuk berhasil. Pada pembelajaran kooperatif ditekankan bahwa untuk dapat menguasai struktur kognitif yang mendasari mata pelajaran tertentu, maka siswa harus bekerja.
Salah satu pembelajaran kooperatif adalah kooperatif tipe Think-Pair-Share yang merupakan suatu strategi mengajar yang diterapkan oleh guru agar pengajaran dapat berlangsung lebih efektif dan efisien yang di dalamnya terdapat  langkah-langkah yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran  yang tersusun secara rapi dan logis sehingga tujuan pembelajaran yang diterapkan dapat tercapai. Pembelajaran kooperatif ini merupakan salah satu pembelajaran dimana guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil yang heterogen.
Melalui pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share, diharapkan siswa dapat berperan aktif dan menghilangkan kejenuhan pada saat mengikuti pengajaran serta berpikir secara mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami, sehingga siswa diharapkan tertarik untuk mengulang pengajaran di rumah untuk mempersiapkan diri mengikuti pelajaran di kelas pada pertemuan berikutnya. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat terwujud.
Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini dirumuskan, yaitu Apakah ada peningkatan hasil belajar geografi melalui pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar geografi melalui pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar?
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai landasan bagi guru mata pelajaran geografi di sekolah lokasi penelitian dalam mengambil langkah-langkah perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran dengan penerapan metode Think-Pair-Share.
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka yang diuraikan dalam penelitian ini pada dasarnya dijadikan acuan untuk mendukung dan memperjelas penelitian ini. Sehubungan dengan masalah yang diteliti, kerangka teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini diuraikan sebagai berikut.
Tinjauan Tentang Belajar dan Mengajar
Menurut Ali (2004), proses belajar mengajar yang merupakan formal di sekolah di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu : (1) guru, (2) isi atau materi pelajaran dan (3) siswa. Interaksi antara ketiga komponen utama melibatkan sarana dan prasarana seperti metode, media, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi belajar-mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan demikian, guru yang memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, setidak-tidaknya menjalankan tiga macam tugas utama, yaitu merencanakan, melaksanakan pengajaran dan memberikan balikan.
Bila terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses mengajar. Hal ini kiranya mudah dipahami, karena bila ada yang belajar sudah barang tentu ada yang mengajarnya, dan begitu pula sebaliknya kalau ada yang mengajar tentu ada yang belajar. Kalau sudah terjadi suatu proses/saling interaksi, antara yang mengajar dengan yang belajar, sebenarnya berada pada suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak sengaja, masing-masing pihak berada dalam suasana belajar. Jadi guru walaupun dikatakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung juga melakukan belajar.
Belajar
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya         (Slameto, 2003).
Teori belajar sangat beraneka ragam. Setiap teori mempunyai landasan sebagai dasar perumusan. Bila ditinjau dari landasan itu, teori belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu teori asosiasi dan gestlat. Kedua macam teori inilah yang banyak berkembang melalui berbagai penelitian maupun eksperimen para ahli, sehingga muncul berbagai macam teori yang beraneka ragam (Ali, 2004).
Ada beberapa teori yang berpendapat bahwa proses belajar pada prinsipnya bertumpu pada struktur kognitif, yakni penataan fakta, konsep serta prinsip-prinsip, sehingga membentuk satu kesatuan yang memiliki makna bagi subjek didik. Teori semacam ini boleh diterima dengan suatu alasan bahwa dari struktur kognitif itu dapat mempengaruhi perkembangan afeksi ataupun penampilan seseorang   (Sardiman, 2005).
Dalam praktek pengajaran, penggunaan suatu dasar teori untuk segala situasi merupakan tindakan kurang bijaksana. Tidak ada suatu teori belajar pun yang cocok untuk segala situasi. Karena masing-masing mempunyai landasan yang berbeda dan cocok untuk situasi tertentu. Robert M Gagne yang dikutip ke dalam buku Ali mencoba melihat berbagai macam teori belajar dalam satu kebulatan yang saling melengkapi dan tidak bertentangan. Menurut Gagne belajar mempunyai delapan tipe. Ke delapan tipe itu bertingkat-ada hiararchi dalam masing-masing. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. Adapun tipe yang dimaksud, yaitu belajar isyarat, belajar stimulus, belajar rangkaian, Asosiasi verbal, belajar diskriminasi, belajar konsep, belajar aturan dan belajar pemecahan masalah.
Belajar terjadi bila seseorang menghadapi suatu yang di dalamnya ia tak dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan bentuk-bentuk kebiasaan untuk menghadapi tantangan-tantangan, atau apabila ia harus mengatasi rintangan-rintangan dalam aktivitasnya (Sahabuddin, 2003).
Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku si subjek belajar. Ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor yang berpengaruh itu, secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor intern  diri si subjek belajar dan faktor ekstern si subjek belajar.
Hasil belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang terjadi pada diri seseorang yang melakukannya. Dimana interaksi individu dalam lingkungan yang membawa perubahan sifat, tindakan, perbuatan, dan tingkah laku.
Belajar pada dasarnya proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman dan sebagai hasil dari interaksi dalam lingkungannya. Unsur lingkungan yang disebutkan  pada hakikatnya berfungsi sebagai lingkungan belajar seseorang, yakni lingkungan tempat ia tinggal dan berinteraksi sehingga menumbuhkan kegiatan belajar pada dirinya.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar oleh individu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya yang bersifat relatif permanen.
Mengajar
Masalah mengajar telah menjadi persoalan para ahli pendidikan sejak dahulu sampai sekarang. Pengertian mengajar mengalami perkembangan, bahkan hingga dewasa ini belum ada definisi yang tepat bagi semua pihak mengenai mengajar itu. Pendapat yang dilontarkan oleh para pendidik ialah untuk mendapatkan jawaban tentang apakah mengajar itu?. Kegagalan mengajar dapat terjadi bila tidak diperhatikan gaya belajar siswa (Nasution, 2005).
Menurut Sahabuddin (2003) dikutip dari William C. Morse dan G. Max Wingo (1962), tiga macam definisi mengajar, yaitu definisi mengajar secara tradisional adalah proses memberikan kepada pelajar pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menguasai mata-mata pelajaran yang telah ditentukan, definisi mengajar secara tradisional adalah menunjukkan bagaimana mengerjakan; menjadikan mengerti; memberi instruksi kepada dan definisi mengajar secara mutakhir yaitu sistem kegiatan untuk membimbing anak sebagai individu dan sebagai kelompok dengan maksud terpenuhinya kelengkapan pengalaman belajar yang memungkinkan setiap anak dapat berkembang terus secara teratur mencapai kedewasaannya.
Menurut Sudjana (1989), mengajar pada hakekatnya adalah proses yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.
Mengajar pada hakekatnya bermaksud mengantarkan siswa mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam praktek, perilaku mengajar yang dipertunjukkan guru sangat beraneka ragam, meskipun maksudnya sama. Aneka ragam perilaku guru mengajar ini bila ditelusuri akan diperoleh gambaran dan siswa (Ali, 2004).
Gaya mengajar yang dimiliki oleh seorang guru mencerminkan pada cara melaksanakan pengajaran, sesuai dengan pandangannya sendiri. Di samping itu landasan psikologis, terutama teori belajar yang dipegang serta kurikulum yang dilaksanakan juga turut mewarnai gaya mengajar guru yang bersangkutan.
Pengajaran adalah suatu usaha manusia yang bersifat kompleks, oleh sebab banyaknya nilai-nilai dan faktor-faktor manusia yang turut terlibat di dalamnya. Dikatakan sangat penting, sebab pengajaran adalah usaha membentuk manusia yang baik. Kegagalan pengajaran dapat merusak satu generasi masyarakat (Oemar, 2001).
Mengajar pada hakekatnya adalah proses penyampaian pengetahuan/ pengalaman pada peserta didik sedemikian rupa sehingga mereka dapat mencapai tujuan-tujuan belajarnya, pengajar mencoba menolong, membimbing, dan memotivasi peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan sesuai dengan tujuan belajarnya. Mengajar bukan hanya berupa pemberian materi kepada peserta didik, melainkan juga merupakan proses yang mengacu pada hasil belajar yang ingin dicapai oleh peserta didik.
Di dalam proses penyampaian pengetahuan kepada peserta didik pengajar menggunakan metode. Menurut Nana (2005) ketepatan penggunaan metode mengajar tersebut sangat bergantung pada tujuan, isi proses belajar mengajar dan kegiatan belajar mengajar. Ditinjau dari segi penerapannya, metode-metode mengajar ada yang tepat digunakan untuk siswa dalam jumlah besar dan ada yang tepat untuk siswa dalam jumlah kecil. Ada juga yang tepat gunakan di dalam kelas atau di luar kelas. Metode-metode mengajar yang sering digunakan sampai saat ini adalah metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode tugas belajar dan resitasi, metode kerja kelompok, metode demonstrasi dan eksperimen, metode sosiodrama, metode problem solving, metode sistem regu, metode karyawisata, metode resource person, dan metode simulasi.
Jika seorang guru merasa bertanggung jawab atas penyempurnaan pengajarannya, maka ia harus mengevaluasi pengajarannya itu agar ia mengetahui perubahan apa yang seharusnya diadakan. Siswa juga harus dievaluasi. Suatu kebiasaan aneh dalam metodologi pengajaran yaitu bahwa dua tugas yang sangat penting ini pada umumnya dipandang secara terpisah (Popham, 2005).
Tinjauan Umum Tentang Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum  yang menuntut aktivitas, kreativitas, dan kearifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan secara efektif dan menyenangkan. Pada buku Mulyasa (2006), Saylor mengatakan bahwa ” Instruction is thus the implementation of curriculum plan, usually, but not necessarily, involving teaching in the sense of student, teacher interaction in an educational setting”. Dalam hal ini, guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian ketika peserta didik belum dapat membentuk kompetensi dasar.
Menurut Mulyasa (2006) bahwa proses dan hasil belajar peserta didik bergantung pada  kompetensi guru dan keterampilan mengajarnya. Oleh karena itu, guru harus mampu mengaktualisasikan dalam pembelajaran. Dalam hal ini, guru harus mampu menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Pembelajaran aktif merupakan  pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan. Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas peserta didik selama pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik.
Menurut Nur, dkk (2000), semua model mengajar ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (reward). Struktur tugas mengacu kepada dua hal, yaitu pada cara pembelajaran itu diorganisasikan dari jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa di dalam kelas. Hal ini berlaku pada pengajaran klasikal maupun pengajaran dengan kelompok kecil, siswa diharap melakukan apa selama pengajaran itu.
Dalam penerapan pembelajaran kooperatif dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama., mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pendekatan konstruktivistik. Model pembelajaran mengacu pada metode pembelajaran dimana peserta didik bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar (Nurhayati dan Wellang, 2004).
Menurut Nurhayati dan Wellang (2004), dalam pembelajaran kooperatif guru mempunyai peranan diantaranya (1) Mengorganisasikan materi pelajaran; (2) Menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan peserta didik; (3) Mengorganisasikan peserta didik; (4) menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik; (5) Membentuk kelompok siswa yang heterogen; (6) Memberi petunjuk secara tertulis kepada peserta didik. Selain itu peserta didik juga mempunyai peranan diantaranya adalah sebagai berikut : (1) Para peserta didik bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya, (2) Para peserta didik diharapkan menjadi aktif, bertanggung jawab, bekerjasama, dan penuh kepedulian; (3) Para peserta didik berlatih menilai kemajuan belajarnya dan merenungkan dirinya melalui tujuan kelompok ; (4) Para peserta didik dapat memberi umpan-balik terhadap sesamanya dan dapat terampil menilai dirinya sendiri.
Ciri khas pembelajaran kooperatif adalah peserta didik ditempatkan pada kelompok- kelompok kerja dan tinggal bersama sebagai satu kelompok atau beberapa minggu atau beberapa bulan. Mereka dilatih keterampilan-keterampilan spesifik untuk membantu mereka bekerja sama dengan baik. Misalnya menjadi pendengar yang baik dan sebagainya.
Pembelajaran kooperatif dapat dibedakan menjadi beberapa model diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Student Teams Achievement Division (STAD).
  2. Jiksaw
  3. Think-Pair-Share
  4. Numbered heads together
Tinjauan Tentang Metode Pembelajaran Think-Pair-Share
Strategi berpikir secara berpasangan berkembang dari penelitian belajar kooperatif. Pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dan di Universitas Maryland pada tahun 1985 yang dikutip dalam buku Nur, dkk (2000), menyatakan bahwa strategi ini menentang asumsi bahwa berpikir kolegannya secara berpasangan merupakan suatu cara yang efektif untuk mengubah pola diskursus dalam kelas. Strategi menentang asumsi bahwa semua resitasi dalam diskusi perlu dilakukan dalam setting seluruh kelompok. Berpikir secara berpasangan memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa lebih banyak berpikir, menjawab dan saling membantu  satu sama lain.
Andaikan guru baru saja melakukan penyajian singkat, atau siswa telah membaca suatu tugas, atau suatu situasi penuh teka-teki telah ditemukan. Kemudian guru menginginkan siswa memikirkan secara mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami. Frank Lyman memilih menggunakan strategi berpikir secara berpasangan sebagai gantinya tanya jawab seluruh siswa. Menurut Nur, dkk (2000), bahwa langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share secara sederhana digambarkan sebagai berikut :
Tahap 1:    Think (berpikir). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan konsep pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat. Berpikir dapat ditandai dengan siswa mampu bertanya tulisan, bertanya lisan, menjawab pertanyaan, dan berpendapat.
Tahap 2:    Pairing (berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat dibagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberi waktu 45 menit untuk berpasangan.
Tahap 3:    Share (berbagi). Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan berbagi untuk seluruh kelompok tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai akhir seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Tinjauan Tentang Hasil Belajar
Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti serangkaian kegiatan instruksional tertentu. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa erat kaitannya dengan rumusan instruksional yang direncanakan oleh guru sebelumnya. Hasil dan bukti belajar ialah adanya perubahan tingkah laku orang yang belajar yang terjadi karena proses kematangan dan hasil belajar bersifat relatif menetap, misalnya dati tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Menurut Mudjiono (2000), bahwa hasil dan bukti belajar adalah adanya perubahan tingkah laku orang yang belajar.
Menurut Howard Kingsley (Sudjana, 1989), ada tiga macam hasil belajar yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita, yang masing-masing dapat golongan, dapat diisi dengan bahan yang diterapkan dalam kurikulum sekolah. Benyamin Bloom  berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang hendak kita capai terdiri dari tiga bidang, yaitu bidang kognitif, bidang afektif, dan bidang psikomotorik.
Setiap kegiatan yang berlangsung pada akhirnya kita ingin mengetahui hasilnya, demikian pula dengan pembelajaran. Untuk mengetahui hasil kegiatan pembelajaran, harus dilakukan pengukuran dan penilaian. Pengukuran adalah suatu usaha untuk mengetahui sesuatu seperti apa adanya, sedangkan penilaian adalah usaha yang bertujuan untuk mengetahui keberhasilan belajar dalam penguasaan kompetensi (Haling, 2002). Dengan demikian pengukuran hasil belajar adalah suatu usaha untuk mengetahui kondisi status kompetensi dengan menggunakan alat ukur sesuai dengan apa yang diukur, sedangkan penilaian adalah usaha untuk membandingkan hasil pengukuran dengan patokan yang ditetapkan.
Pencapaian hasil belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga tidaklah mengherankan apabila hasil belajar dari sekelompok siswa bervariasi. Setiap siswa dalam sistem pengajaran memiliki karakteristik tertentu yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya, misalnya minat, motivasi, serta kemampuan kognitif yang dimilikinya. Faktor-faktor lain yang sengaja dirancang dan dimanipulasi misalnya bahan pelajaran. Guru memberikan pelajaran merupakan suatu faktor yang sangat berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar siswa.
Beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, kelas terlihat perbedaan kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yakni hasil yang telah dicapai dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan dan menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan, baik secara individu maupun secara kelompok dalam kegiatan tertentu.
Kerangka Berpikir
Proses belajar mengajar (PBM) dipandang berkualitas jika berlangsung efektif, bermakna dan ditunjang oleh sumber daya yang wajar. Proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil jika siswa menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar yang harus dikuasai dengan sasaran dan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu guru sebagai pendidik bertanggung jawab merencanakan dan mengelola kegiatan-kegiatan belajar mengajar sesuai dengan tuntutan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada setiap mata pelajaran.
Di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisiensi, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu strategi yang harus dimiliki oleh guru adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasa disebut metode mengajar.
Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara mengajar yang dipergunakan oleh guru untuk menyajikan pelajaran kepada siswa di dalam kelas yang diharapkan dapat memotivasi siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan, menjawab pertanyaan, memecahkan masalah dan bersikap.
Berbagai macam-macam teknik mengajar, ada yang menekankan peranan guru yang utama dalam pelaksanaan penyajian, ada pula yang menekankan pada media hasil teknologi, ada pula teknik penyajian yang hanya digunakan untuk sejumlah siswa yang terbatas dan yang tidak terbatas, teknik penyajian di dalam dan di luar kelas, dan lain sebagainya. Setiap teknik tersebut memiliki ciri khas dan tujuan tersendiri, sehingga dalam memilih teknik pengajaran harus tetap bertolak pada tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran serta kesesuaian materi dengan metode yang diterapkan.
Dengan metode pembelajaran Think-Pair-Share, diharapkan siswa dapat lebih berminat dalam belajar mata pelajaran geografi dan dapat memberikan solusi dalam memahami materi, serta memberikan keaktifan, perhatian, belajar memecahkan masalah yang dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa dalam rangka perbaikan proses belajar mengajar. Dengan demikian diharapkan agar siswa dapat meningkatkan prestasinya.
Hipotesis
Hipotesis yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah Jika pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share diterapkan maka ada peningkatan hasil belajar pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan tahapan-tahapan pelaksanaan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi.
Variabel Penelitian
Pada penelitan ini ada dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yaitu pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share sedangkan variabel terikat yaitu hasil belajar siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar.
Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran mengenai variabel dalam penelitian ini, maka peneliti memperjelas definisi operasional variabel dan perlakuan yang dimaksud.
  1. 1. Pembelajaran kooperatif Tipe Think-Pair-Share adalah merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif dimana siswa sebagai peserta didik yang berpikir, berbagi dan dibagi kelompok yang terdiri dari dua orang.
  2. 2. Hasil belajar
Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar terhadap mata pelajaran geografi yang meliputi aspek ingatan, pemahaman dan penerapannya.
Prosedur Penelitian
Siklus I
Tahap Perencanaan Tindakan
  1. Peneliti bersama guru bidang studi mendiskusikan masalah-masalah berdasarkan hasil observasi yang dijumpai pada proses belajar mengajar.
  2. Menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan.
  3. Menyusun RPP.
  4. Mempersiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar.
  5. Membuat tes siklus I sebagai alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang diajarkan pada siklus I.
Tahap Pelaksanaan Tindakan
  1. Mempersiapkan semua perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam kelas.
  2. Menyampaikan materi secara singkat dengan metode ceramah.
  3. Memberikan pertanyaan kepada siswa untuk dipikirkan (berpikir dapat ditandai dengan siswa mampu bertanya, menjawab dan berpendapat).
  4. Membagi siswa ke dalam kelompok dan tiap satu kelompok terdiri dari 2 orang untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan sebelumnnya dari pertanyaan guru selama 10 menit.
  5. Setelah selesai diskusi, guru meminta kepada pasangan berbagi untuk seluruh kelompok tentang apa yang telah dipikirkan sebelumnya dengan cara setiap kelompok bergiliran untuk mempersentasekan.
  6. Membuat kesimpulan dari semua pertanyaan yang sudah didiskusikan.
Tahap Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini ada dua perlakuan yaitu obesrvasi dan evaluasi. Pelaksanaan tahap observasi terhadap aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar yang  menggunakan lembar observasi dengan tujuan untuk melihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dengan cara mengamati dan mencatat aktivitas siswa selama pelaksanaan proses belajar mengajar.  Pelaksanaan evaluasi memberikan tes hasil belajar yang dilakukan pada akhir tindakan siklus I dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
Analisis dan Refleksi
Hasil yang dicapai dalam tahap observasi dan evaluasi dikumpul kemudian dilakukan analisis dan refleksi. Refleksi dimaksudkan untuk melihat apakah rencana telah terlaksana secara optimal atau perlu dilakukan perbaikan. Aspek-aspek yang dianggap bagus tetap dipertahankan, sedangkan kekurangannya menjadi pertimbangan dan revisi pada siklus berikutnya yang masih merupakan masalah dalam siklus I seperti:
  1. Masih ada siswa yang sulit berinteraksi dan kurang aktif dalam pembelajaran sehingga akan diupayakan memberi perhatian khusus dalam kegiatan belajar mengajar.
  2. Hasil belajar siswa masih tergolong rendah , sehingga pada siklus II akan diupayakan agar perhatian siswa lebih fokus dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan.
Siklus II
Pelaksanaan tindakan siklus II ini relative sama dengan pelaksanaan tindakan siklus I. Namun dalam pelaksanaan ini dilakukan perbaikan-perbaikan dari siklus I sehingga aktivitas siswa dalam belajar lebih meningkat. Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan siklus II, yaitu:
Tahap Perencanaan Tindakan
  1. Mempersiapkan perangkat pembelajaran .
  2. Mempersiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar.
  3. Membuat tes siklus II sebagai alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang diajarkan pada siklus I.
Tahap Pelaksanaan Tindakan
  1. Mempersiapkan semua perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam kelas.
  2. Menyampaikan materi secara singkat dengan metode ceramah.
  3. Memberikan pertanyaan kepada siswa untuk dipikirkan (berpikir dapat ditandai dengan siswa mampu bertanya, menjawab dan berpendapat).
  4. Membagi siswa ke dalam kelompok dan tiap satu kelompok terdiri dari 2 orang untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan sebelumnnya dari pertanyaan guru selama 10 menit.
  5. Setelah selesai diskusi, guru meminta kepada pasangan berbagi untuk seluruh kelompok tentang apa yang telah dipikirkan sebelumnya dengan cara setiap kelompok bergiliran untuk mempersentasekan.
6. Membuat kesimpulan dari semua pertanyaan yang sudah didiskusikan.
Tahap Observasi dan Evaluasi
Melakukan observasi aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar dengan menggunakan lembar observasi untuk melihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa.  Melakukan evaluasi dengan menggunakan tes berupa pilihan ganda pada akhir tindakan siklus II dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
Analisis dan Refleksi
Hasil yang dicapai dalam tahap observasi dan evaluasi akan dianalisis dan merupakan hasil akhir pelaksanaan tindakan siklus II yang telah dilakukan. Kemudian melakukan refleksi dengan maksud untuk melihat apakah rencana telah terlaksana secara optimal atau perlu dilakukan perbaikan. Apabila dalam tindakan siklus II masih ada kekurangan maka akan dilaksanakan siklus berikutnya untuk melakukan perbaikan.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar dengan jumlah siswa sebanyak 43 orang dengan 23 laki-laki dam 20 perempuan.
Tempat Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan kegiatan di Kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar Propinsi Sulawesi Selatan. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Juli sampai September 2008.
Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. 1. Data tentang aktifitas belajar mengajar diambil pada saat dilaksanakan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
  2. 2. Data mengenai hasil belajar diambil dari tes tiap siklus. Tes tersebut dibuat oleh peneliti dalam bentuk soal pilihan ganda.
Teknik Analisis Data
Data hasil belajar siswa berupa tes akan dianalisis dengan menggunakan skor yang berdasarkan penilaian acuan patokan, dihitung berdasarkan skor maksimal yang mungkin dicapai oleh siswa. Nilai yang diperoleh dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Pedoman pengkategorian hasil belajar siswa  yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Di samping itu juga dideskripsikan hasil pengamatan aktifitas pembelajaran dan perilaku siswa yang diketahui dari hasil pengamatan dengan menggunakan lembar observasi yang terjadi pada pelaksanaan proses belajar mengajar.
Tabel. 1. Tingkat penguasaan dan kategori hasil belajar siswa
Tingkat Penguasaan Kategori
8,0-10 Sangat Tinggi
6,6-7,9 Tinggi
5,6-6,5 Sedang
40-5,5 Rendah
0-3,9 Sangat Rendah
(Arikunto, 2005)
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. 2004. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar baru Albensindo. Bandung.
Arikunto Suharsimi, Suhardjono dan Supardi. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta
Hamalik, O. 2002. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara, Jakarta.
Mudyahardjo, R. 2002. Pengantar Pendidikan “Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Pendidikan Pada Umumnya Dan Pendidikan di Indonesia”. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Mulyasa. E,. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan “Pengembangan Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar”. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Nana, S. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar baru Albensindo. Bandung
Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Popham W. James, Eval, Baker. 2005. Teknik Mengajar Secara Sistematik. Rineka Cipta. Jakarta.
Sahabuddin. 2003. Mengajar dan Belajar “Dua Aspek Dari Suatu Proses Yang Disebut Pendidikan”. Badan Penerbit Kampus Gunung Sari UNM. Makassar.
Sardiman, A. M. 2006. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta.
Sudjana, N. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru. Bandung.

0 Proposal Skripsi Pendidikan : Analisis Problematika Proses Belajar pada Mata Pelajaran Agama

Analisis Problematika Proses Belajar Mengajar pada Mata Pelajaran Agama Islam di SMP Negeri 1 Bisappu Kabupaten Bantaeng.

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan sebagai salah satu aspek dari program pemerintah yang perlu mendapat perhatian yang serius dalam pengembangan dewasa ini. Dan perlu juga disadari bahwa bangsa yang berada dalam tahap pembangunan dan perkembangan, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang paling vital. Oleh karena itu melalui proses pendidikan di sekolah, menunjukkan bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan bergantung kepada proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah berkat guru dan siswa. contoh proposal skripsi pendidikan
Untuk pencapaian tujuan, pendidikan yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pemerintah berupaya meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh. Upaya tersebut berupa pembangunan, pembuatan sarana dan prasarana, bahkan semua komponen yang dibutuhkan bagi terlaksananya pendidikan.
Salah unsur yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan peserta didik dalam pelaksanan pendidikan adalah guru. Oleh karena itu berbagai upaya telah dilakukan demi untuk peningkatan mutu pendidikan, khususnya peningkatan kualitas guru yang harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, karena dengan peningkatan kualitas guru akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan.
Penegasan di atas mengisyaratkan betapa pentingnya keberadaan seorang guru yang harus mengelola proses belajar mengajar secara profesional di sekolah. Sehingga peningkatan kemampuan mereka harus ditingkatkan secara berkesinambungan. Namun tidak berarti bahwa keberadaan unsur-unsur lainnya tidak begitu penting bagi peningkatan mutu pendidikan di sekolah, selain guru dan murid. Contoh Proposal Skripsi Pendidikan.
Dalam proses belajar mengajar ada dua unsur yang sangat penting dimiliki oleh seorang guru yaitu metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek itu saling berkaitan pemilihan salah satu metode pengajar tentu akan mempengaruhi jenis media yang sesuai.[1] Pemakaian media pengajaran dalam proses mengajar dapat membangkitkan keinginan dan  minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan belajar.
Salah satu kelemahan atau kesulitan dalam pembelajaran adalah minimnya sarana dan prasarana pendidikan, karena alat pendidikan dapat digunakan dalam memperlancar proses belajar mengajar baik yang bersifat konkrit maupun abstrak untuk mencapai hasil yang optimal.[2]
Hal-hal tersbebut di atas, merupakan kendala-kendala yang dirasakan oleh guru pada umumnya dan juga berbagai macam problematika yang dihadapinya, tapi yang paling mendasar adalah kurangnya fasilitas atau media untuk menyampaikan mata pelajaran terutama pada mata pelajaran agama Islam.
Media pendidikan yang digunakan dalam proses belajar mengajar dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai.[3] Oleh karena itu tugas dan tanggungjawab seorang guru adalah mengelola pengajaran agar lebih efektif, dinamis, efisien dan positif. Hal tersebut dapat terlaksana pabila kesadaran dan keterlibatan antara guru dan siswa berinteraksi secara proposional. Karena gurulah secara langsung mengadakan interaksi dengan siswa dalam rangka mempengaruhi untuk membina, melatih, dan membimbing serta mengembangkan kemampuan agar dapat mencapai hasil yang optimal atau dengan kata lain siswa tersebut mencapai prestasi yang lebih baik. contoh proposal skripsi pendidikan
Akan tetapi, disadari bahwa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam suatu lembaga pendidikan formal tidak terlepas dari faktor eksternal seperti faktor keluarga, faktor sekolah dan masyarakat.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka masalah-masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
  1. Bagaimana problematika proses belajar mengajar pada pelajaran Agama Islam di SMP Negeri 1 Bisappu ?
  2. Bagaimana mengatasi problematika dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Agama Islam di SMP Negeri 1 Bisappu ?
C.    Hipotesis
Berdasarkan pokok masalah di atas maka penulis memberikan alternatif jawaban sementara yaitu :
  1. Proses belajar mengajar pada mata pelajaran agama Islam belum berjalan dengan baik.
  2. Salah satu hal dalam mengatasi problematika dalam proses belajar mengajar terutama dalam mata pada mata pelajaran Agama Islam adalah pengadaan sarana dan prasarana yang memadai seperti buku-buku paket agama Islam dan alat-alat peraga.
D.    Pengertian Judul
Draft ini berjudul “Analisis problematika proses belajar mengajar pada mata pelajaran agama Islam di SLTP Negeri 1 Bisappu”. Untuk lebih memahami lebih mendalam judul draft ini, maka perlu dijelaskan beberapa istilah yang menjadi unsur utama sehingga tidak menjadi penafsiran yang keliru dari pembaca. Ada beberapa kata yang penulis kemukakan dalam judul diartikan beberapa kata yang menjadi variabel utama yaitu :
        1.     Analisis
Secara etimologis kata ini mempunyai arti tersendiri yaitu : Kata analisis berarti penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.3
        2.     Problematika belajar mengajar
Penulis maksudkan dalam hal ini sesuatu yang menimbulkan masalah dalam hubungan guru dan murid setelah terjadi tatap muka dalam proses belajar mengajar.
                    Dengan adanya pengertian beberapa kata di atas, maka pengertian keseluruhan judul skripsi ini adalah “suatu upaya untuk menganalisis problematika proses belajar mengajar pada mata pelajaran agama Islam di SLTP Negeri 1 Bisappu.
E.    Tinjauan Pustaka
        1.     Pengertian proses belajar mengajar dan problematikanya.
                a.   Pengertian Proses belajar mengajar
Proses belajar mengajar selalu melibatkan guru sebagai tenaga pengajar dan siswa sebagai obyek pengajar. Oleh karena itu, untuk memahami arti proses belajar mengajar, maka diperlukan pemahaman dasar tentang pengertian belajar mengajar itu sendiri.
                      1.   Arti belajar
Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami hal belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.5
                       2.   Arti mengajar
Mengajar diartikan sebagai upaya menyampaikan bahan pengajaran kepada siswa, maka nampak bahwa aktivitas mengajar lebih dominan oleh guru sebagai pelaku pengajar. Sedangkan siswa hanya bertindak sabagai obyek pelajar . Jadi guru dengan segala aktivitasnya berupaya memberikan pengajaran kepada para siswa. Sedangkan siswa cenderung bersifat pasif.6
Kemudian dalam makna yang lebih luas, mengajar dapat diartikan dengan segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai tujuan yang telah di tetapkan.
Hilgard mengatakan bahwa :
“Belajar adalah suatu proses perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan perubahan tersebut tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan oleh pertumbuhan atau keadaan sementara seseorang seperti kelalaian atau di sebabkan obat-obatan.7
Drs. Slameto mengatakan bahwa :
“Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dan berinteraksi dengan lingkungannya.8
H. Roth mengatakan bahwa :
“Belajar (dari segi ilmu mendidik) berarti perbaikan, perbaikan tingkah laku (memperoleh tingkah laku baru) dan kecakapan. Dengan belajar terdapat perubahan-perubahan (perbaikan) fungsi kejiwaan. Hal mana menjadi syarat bagi perbaikan tingkah laku dan berarti pula menghilangkan tingkah laku dan kecakapan yang mempersempit belajar.9
Ketiga pengertian di atas menunjukkan suatu pengertian belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik sebagai hasil dan interaksi dengan lingkungannya. Jadi belajar dalam makna ini yaitu perubahan tingkah laku peserta didik ke arah yang lebih baik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar adalah suatu upaya dilakukan oleh guru untuk memberikan dorongan kepada siswa agar terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa. Proses ini merupakan suatu perwujudan dari reaksi antar siswa dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud lebih dititik beratkan pada lingkungan sekolah. contoh proposal skripsi pendidikan
Rumusan lain dapat pula di kemukakan disini bahwa belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pengajaran, belajar mengacu kepada apa yang dilakukan oleh siswa sedangkan mengajar mengacu kepada apa yang di lakukan oleh guru sebagai pemimpin belajar. Kedua kegiatan tersebut menjadi terpadu dalam suatu kegiatan manakala terjadi hubungan timbal balik antara guru dan siswa pada saat pelajaran berlangsung.
                b.   Problematikan belajar mengajar
Bertitik tolak dari arti problematika yaitu hal yang menimbulkan masalah, maka dalam kaitannya dengan belajar mengajar yang dikemukakan sebelumnya dapat diambil suatu rumusan pengertian bahwa yang dimaksud dengan problematika belajar mengajar adalah sesuatu yang menjadi sebab timbulnya masalah dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah, baik yang berlangsung dalam tatap muka maupun melalui media cetak.
Dalam hubungan ini mengajar diartikan sebagai kegiatan mengorganisasi proses belajar. Dengan demikian problematika yang dihadapi oleh pengajar dan dipandang baik untuk menghasilkan produk yang baik, adalah bagaimana mengorganisasikan proses belajar mengajar untuk mencapai pengetahuan yang luas. Dalam hal ini guru sebagai pengajar harus berperan sebagai perantara yang lebih baik.
        2.     Macam-macam problematikan belajar mengajar
Akrivitas belajar mengajar bagi setiap individu, tidak selamanya berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari dan kadang-kadang terasa amat sulit. Atas dasar itulah maka dapat dipahami bahwa dalam aktivitas belajar mengajar itu terdapat berbagai masalah atau problematika, misalnya:  dalam hal semangat yang terkadang tinggi tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi, itulah kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap siswa dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar mengajar. Setiap siswa memang tidak ada sama perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar mengajar dikalangan siswa, hal tersebut yang menjadi kesulitan belajar mengajar adalah dalam keadaan siswa dimana tidak dapat belajar sebagaimana mestinya yaitu sesuai dengan cara belajar yang efektif dan efisien.
F.    Metodologi Penelitian
        1.     Populasi dan Sampel
                a.   Populasi
Sebelum penulis mengemukakan populasi, maka terlebih dahulu penulis menjelaskan pengertian populasi untuk memudahkan obyek penelitian. Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang menjadi perhatian peneliti.12
Nana Sudjana dan Dr. Ibrahim MA, mengatakan :
Populasi, maknanya berkaitan dengan elemen yakni unit tempat diperolehnya informasi, elemen tersebut bisa berupa keluarga, individu, rumah tangga, kelompok sosial, sekolah, kelas, organisasi dan lain-lain yakni sekumpulan dari sejumlah elemen.13
Berdasarkan dari pengertian di atas, maka dapat dipahami bahwa populasi adalah keseluruhan objek yang menjadi saran peneliti. Dengan demikian populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 1 Bisappu Kabupaten Bantaeng yang berjumlah 146 siswa yang terbagi ke dalam enam kelas dengan perincian siswa kelas 1 terdiri dari tiga kelas yakni kelas 1A berjumlah 25 orang, kelas 1B berjumlah 25 orang dan kelas 1C berjumlah 24 orang. Sementara kelas 2 terdiri dari tiga kelas dan  kelas 2A berjumlah 25 orang, kelas 2B berjumlah 24 orang dan kelas 1C berjumlah 22 orang dan guru mata pelajaran agama Islam sebanyak 2orang. contoh proposal skripsi pendidikan
Adapun siswa kelas tiga tidak diteliti karena siswa tersebut telah mengikuti UIN atau telah tamat, sehingga peneliti hanya memilih kelas satu dan kelas dua. Hal ini karena pengambilan data peneliti dilakukan pada akhir tahun ajaran lama untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel beriku ini .
Tabel
Keadaan Pupulasi  Siswa SMP Negeri 1 Bisappu Bantaeng
No
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
2
3
4
5
6
1A
1B
1C
2A
2B
3C
14
11
16
8
8
12
11
14
9
17
16
16
25
25
25
25
24
22
Jumlah
69
77
146
Sumber data : Kantor Tata Usaha SMP Negeri 1 Bisappu kab. Bantaeng
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa laki-laki kelas satu dan kelas dua sebanyak 69 siswa dan siswa perempuan kelas satu dan dua sebanyak 77 siswi. Jadi dapat disimpulkan bahwa populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 1 Bisappu yang terdiri dari kelas satu dan dua yang terdiri dari 146 orang dan 2 guru mata pelajaran pendidikan agama Islam
                b.   Sampel
Sampel adalah sebagian objek atau wakil populasi yang diteliti. Menurut Sutrisno Hadi sampel adalah perwakilan atau wakil yang lebih kecil dan keseluruhan. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Menggenaralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.14
Dengan demikian sampel yang diambil dari keseluruhan populasi yaitu siswa sebanyak 30 orang dan 2 orang guru mata pelajaran pendidikan agama Islam mengingat adanya strata dalam objek penelitian ini yakni kelas satu dan kelas dua maka teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan quata sampling. Teknik sampel ini diberi nama demikian karena dalam pemilihan sampelnya peneliti mencampur subyek-subyek di dalam populasi sehingga semua obyek dianggap sama dalam hal ini peneliti mengambil sampel dari setiap kelas sebanyak 20% dari jumlah siswa tiap kelas hingga diperoleh sampel sebanyak 30 orang. Ke 30 orang inilah yang akan menjadi respoden mewakili siswa di SMP Negeri 1 Bisappu. Adapun pengambilan sampel tersebut berdasarkan teori yang dikemukakan oleh  Suharsini Arikunto :
 “Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, jumlah subyeknua besar dapat diambil antara    10 – 15% atau 20 – 25% atau lebih”.15
Untuk selengkapnya teknik pengambilan sampel dari tiga kelas dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2
Tabulasi Jumlah Siswa dan Sampel Tiap Kelas
No
Kelas
Jumlah Siswa
Sampel (20%)
1
2
3
4
5
6
1A
1B
1C
2A
2B
3C
25
25
25
25
24
22
5
5
5
5
5
5

Jumlah
146
30
        2.     Instrumen Penelitian
Menurut Suharsini Arikunto instrumen penelitian adalah alat yang digunakan pada waktu melaksanakan penelitian16
Instrumen tersebut akan menjangkau semua variabel penelitian dan berupaya untuk melacak sumber daya yang akurat agar tujuan pelaksanaan penelitian akan terwujud, maka instrumen penelitian yang harus difungsikan semaksimal mungkin untuk memperoleh jenis data dan tingkat kepercayaan data.
Adapun yang menjadi pedoman instrumen penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini yakni :
  1. Pedoman observasi untuk mengukur tingkah laku siswa pada waktu belajar dan tingkah laku guru pada waktu mengajar
  2. Angket/koesioner, bertujuan mencari informasi yang lengkap mengenai masalah dari responden, yang berkaitan dengan masalah dalam skripsi ini
  3. Dokumentasi, yakni tentang data responden yang akan dicatat di SLTP Negeri I Bisappu
  4. Pedoman wawancara, yakni dipergunakan untuk mengetahui informasi dari responden, dalam penelitian ini pedoman wawancara dilakukan pada guru.
        3.     Prosedur pengumpulan data
                a.   Tahap Persiapan
Bermula adanya surat izin penelitian yang dikeluarkan oleh Kantor Sosial Politik Kabupaten Bantaeng, yang memberikan kebebasan untuk mengadakan penelitian sesuai apa yang diharapkan, sekaligus izin ini adalah alat untuk memperlancar atau menjaga kemungkinan terjadinya kendala yang ditemukandalam merealisasikan penelitian. contoh proposal skripsi pendidikan
                b.   Tahap Pengumpulan Data
Prosedur selanjutnya adalah melaksanakan penelitian dengan menggunakan metode yang menjadi sumber data agar penelitian berjalan dengan lancar dan sukses.
Metode yang dimaksud adalah Field reseach (riset lapangan), yakni turun langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data-data yang konkrit yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas. Dalam mengumpulkan data melalui metode ini digunakan cara obserfasi, interview, angket dan dokumentasi.
        4.     Teknik Analisis Data
Hasil pengolahan data tersebut akan dianalisis dengan menggunakan dua pendekatan yaitu :
  1. Analisis kualitatif yaitu analisis data yang dijabarkan melalui pengamatan yang tidak berupa angka-angka. maksudnya adalah dilakukan dengan cara menguraikan dalam bentuk kalimat kemudian direlevansikan dengan rujukan teori yang mendukung.
  2. Analisis kuantitaif yaitu analisis terhadap data yang berupa angka-angka dengan cara menggunakan statistik yang relevan dalam bentuk persentase. Maka rumus yang digunakan adalah :
       P = F/N x 100%
Keterangan :
P      =    Persentase (%)
F      =    Frekuensi atau kategori jabatan
N     =    Number (Jumlah Frekuensi/individu)17.
Dengan demikian, metode analisis data yang dipergunakan dalam skripsi ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif, yaitu sumber dari hasil angket, interview, observasi dan dokumentasi, guna memperoleh sesuatu kesimpulan yang betul-betul akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.
G.    Tujuan dan Kegunaan
        1.     Tujuan penelitian ini adalah :
a.   Untuk mengetahui  sejauh mana problematika yang dihadapi oleh siswa.
b.   Untuk mengetahui apakah problematika mempengaruhi prestasi belajar.
c.   Untuk mengetahui bagaimana cara untuk mengatasi problematika.
        2.     Kegunaan penelitian ini adalah :
a.   Menambah wawasan dan memperdalam khasanah pengetahuan penulis terutama sekitar pengetahuan tentang analisis psikologi problematika proses belajar megajar.
b.   Dengan adanya tulisan ini mungkin bisa memberikan kontribusi pemikiran baru untuk dijadikan sebagai bahan masukan bagi guru, para siswa serta seluruh komponen.
c.   Menjadi bahan bacaan pertimbangan serta bahan rujukan terhadap penelian serupa di tempat lain dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam dimasa yang akan datang.
KOMPOSISI BAB
BAB  I    PENDAHULUAN
  1. Latar belakang
  2. Rumusan masalah
  3. Pengertian judul
  4. Tujuan dan kegunaan penelitian
BAB II    TINJAUAN PUSTAKA
  1. Pengertian proses belajar mengajar dan problematikanya
  2. Macam-macam problematika belajar mengajar
BAB III  METODE PENELITIAN
  1. Populasi dan  sampel
  2. Instrumen penelitian
  3. Prosedur pengumpulan data
  4. Teknik analisis data
BAB IV  PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
  1. Gambaran Umum SMP Negeri 1 Bisappu Kabupaten Bantaeng
  2. Keadaan Proses Belajar Mengajar di SMP Negeri 1 Bisappu
  3. Problematika proses belajar mengajar pada mata pelajaran agama Islam di SLTP Negeri 1 Bisappu.
  4. Upaya mengatasi problematika belajar mengajar di SMP Negeri 1 Bisappu.
BAB V    PENUTUP
  1. Kesimpulan
  2. Implikasi Penelitian
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran
Daftar Riwayat Hidup
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, 1990. Pengelolaan Pengajaran. Cet. II. Ujung Pandang : Bintang Selatan.
Ahmadi Abu, 1991. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Ari Kunto, Suharsini, 1989. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Asnawir, H. Media Pembelajaran. Jakarta : Ciputat Pers, 2002
Arsyad, Azhar, Media Pengajaran. Cet. I; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1997
Al Barry Dahlan, M. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya : Arkola.
Harjanto, Perencanaan Pengajaran. Cet. I; Jakarta: PT. Bineka Cipta, 1997
Hakim Lukman, Drs. 1994. Kamus Ilmiah. Surabaya : Terbit Terang.
Hasan M. Iqbal, 2002. Pokok-pokok Materi Statistik Inferensial. Edisi II. Cet. I.  Jakarta : Bumi Aksara.
Khaeruddin, Ilmu Pendidikan Islam. Cet. I ;  Makassar : Yayasan Fabiah, 2002
Muhibbin, Syah. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers, 2003
Oemar Hamalik, 2001. Proses Belajar Mengajar.  Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Pasaribu, 1983. Proses Belajar Mengajar.  Bandung : Tarsito
Slameto, Drs. 2003. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Bineka Cipta
Shalahuddin Maludh, 1990. Pengantar Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Bina Ilmu.
I.L. Simanjuntak. B Pasaribu,. 1983. Proses Belajar Mengajar. Edisi II. Bandung : Strisito.
Sujana Nana dan Ibrahim. MA, 2001. Penelitian dan Penelitian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru.
Sugiyono, 1994. Metodologi Penelitian Administrasi. Edisi II, Cet. IV. Alpabeta.
Usman Muh. Uzer, 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja Persada.

[1]Azhar Arsyad, Media Pengajaran (Cet. I; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 16
[2]Khaeruddin, Ilmu Pendidikan Islam (Cet. I ;  Makassar : Yayasan Fabiah, 2002), h. 85.
[3]Harjanto, Perencanaan Pengajaran (Cet. I; Jakarta: PT. Bineka Cipta, 1997), h. 243.
3 Lukman Hakim. Kamus Istilah (Surabaya : Terbit Terang, 1994) h. 46
5 Hamalik Oemar. Proses Belajar Mengajar (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2001), h. 27.
6 Muh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2002),   h. 27
7 Pasaribu, Proses Belajar Mengajar (Bandung: Tarsito, 1983) h. 59
8 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya (Jakarta : Bina aksara,
9 Pasaribu, Proses Belajar Mengajar (Bandung: Tarsito, 1983) h. 62
12 Maludh Shalahuddin. Pengantar Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT. Bina Ilmu, 1990),       h. 102
13 Nana Sudjana dan Ibrahim MA. Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung : Sinar Baru, 2001), h. 84.
14Sutrisno Hadi, Statistik Jilid II (Yogyakarta: Andi Offset, 1989), h. 104.
15Suharsini Arikunto, Op.cit.,
16 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian (Jakarta : 1989), h. 55
17Sanapiah Faisal, Format-format Penelitan Cet. VII ; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 154.

0 Proposal Skripsi Bahasa Inggris : Pengaruh Keterampilan Mengajar Guru

Pengaruh Keterampilan Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris Di Pesantren IMMIM Makassar

A. Latar Belakang
Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan suatu pola interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Seorang siswa dikatakan belajar apabila dapat mengetahui sesuatu yang dipahami sebelumnya, dapat melakukan atau menggunakan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat digunakannya termasuk sikap tertentu yang mereka miliki. Sebaliknya seorang guru yang dikatakan telah mengajar apabila dia telah membantu siswa untuk memperoleh perubahan yang dikehendaki.
Guru sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar yang bertugas menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang lebih efektif dan efisien. Sebelum mengajar, guru harus merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis, sehingga dapat terampil dalam proses belajar mengajar. Proposal Skripsi Bahasa Inggris.
Guru terampil sebaiknya melakukan berbagai upaya untuk peningkatan prestasi belajar siswa, hal tersebut merupakan tanggung jawab semua guru dalam memperoleh kualitas sumber daya manusia untuk mewujudkan hal di atas seorang guru dituntut untuk memiliki keterampilan mengajar seperti: keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan memberi variasi, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan mengelola kelas, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil dan keterampilan menjelaskan. Dengan demikian keterampilan mengajar tersebut harus senantiasa dikembangkan oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran.
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar tentu tidak lepas dari suatu masalah yang akan dihadapi baik oleh guru maupun siswa. Apabila diperhatikan tentang proses belajar mengajar, maka kita dapat berasumsi bahwa salah satu gejala negatif sebagai suatu penghalang dan kesulitan yang sangat menonjol dalam proses belajar mengajar adalah rendahnya keterampilan dalam mengembangkan pengajaran.
Dalam proses belajar mengajar banyak metode-metode yang dapat digunakan dalam rangka penyampaian suatu bidang studi. Namun metode-metode yang telah ada itu kadang-kadang tidak menjamin suatu keberhasilan. Itu tergantung pada guru bagaimana memilih suatu metode yang sesuai dan cocok dengan materi yang disampaikan atau saat berlangsung proses belajar mengajar, semua itu merupakan kemampuan dan keterampilan guru dalam menganalisa semua metode dan penguasaannya. Penulis merasa perlu membahas masalah keterampilan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris di Pesantren IMMIM Putra Makassar. Sebab keterampilan mengajar sangat menentukan berprestasi atau tidaknya mata pelajaran yang diajarkan. Proposal Skripsi Bahasa Inggris
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut maka untuk memberikan arahan operasional dalam rangka mengupayakan penentuan langkah-langkah penarikan kesimpilan secara nyata. Maka secara operasional penulis merumuskan beberapa pokok-pokok masalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana keterampilan mengajar guru pada mata pelajaran Bahasa Inggris di Pesantren IMMIM Makassar?
  2. Bagaimana prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris di Pesantren IMMIM Makassar?
  3. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara keterampilan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris di Pesantren IMMIM Makassar?
C. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka hipotesis yang maksud adalah tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara keterampilan mengajar guru dengan prestasi belajar siswa. Proposal Skripsi Bahasa Inggris
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
      1.   Tujuan penelitian ini adalah:
  • Untuk mengetahui keterampilan mengajar guru di Pesantren IMMIM Putra Makassar.
  • Untuk mengetahui prestasi belajar siswa di Pesantren IMMIM Putra Makassar.
  • Untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh keterampilan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa di Pesantren IMMIM Putra Makassar.
      2.   Kegunaan penelitian ini adalah
  • Dapat memberikan input bagi siswa di Pesantren IMMIM Putra Makassar dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan profesi dan keterampilan guru dalam mengajar untuk dijadikan sumber belajar dalam hidup yang serba kompleks akibat kemajuan ilmu pengetahuan teknologi
  • Diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang ingin mengetahui pentingnya keterampilan guru di dalam mengajar.
D. Pengertian Judul
Dalam judul skripsi ini terdapat beberapa kata yang perlu penulis berikan pengertian. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam pembahasan selanjutnya.
Adapun pengertian yang dimaksud adalah:
  1. Pengaruh adalah daya yang ada atau yang timbul dari suatu (orang berdaya) yang ikut membentuk watak kepercayaan atau perbuatan seseorang.1
  2. Keterampilan mengajar adalah kecakapan/kemampuan seseorang guru dalam memberikan pengajaran kepada siswa sehingga siswa mudah dan dapat menyerap materi pelajaran.
  3. Prestasi belajar adalah suatu proses untuk menentukan nilai keberhasilan belajar seseorang setelah ia mengalami proses belajar mengajar selama satu periode tertentu.2
E. Garis Besar Isi Skripsi
Skripsi ini berisi Lima Bab, dengan masing-masing Bab terdiri dari Sub Bab antara Bab yang satu dengan Bab yang lainnya dan merupakan suatu rangkaian antara Bab yang satu dengan Bab yang lain :
Bab pertama, pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, hipotesis, pengertian judul, tujuan dan kegunaan dan garis-garis besar isi.
Bab kedua, tinjauan pustaka yang berisi tentang teori-teori yang berkaitan dengan judul skripsi ini, yang memuat penjelasan-penjelasan mengenai keterampilan mengajar guru, yakni pengertian, pentingnya keterampilan mengajar bagi seorang guru. Kemudian pengertian prestasi belajar siswa dan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Bab ketiga, metodologi penelitian yang memuat populasi dan sampel, metode  pengumpulan data, instrumen penelitian dan analisis data.
Bab empat, hasil penelitian yang berisi tentang keadaan umum lokasi penelitian pengujian prestasi analisis dan pembahasannya
Bab kelima, berupa penutup berisi kesimpulan dan saran. Proposal Skripsi Bahasa Inggris
F.  Tinjauan Pustaka
a.  Pengertian Keterampilan Mengajar Guru
Dalam memberikan pengertian tentang keterampilan mengajar guru, maka dalam hal ini penulis akan mengemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh beberapa ahli:
Keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas.[1]           
Menurut Alvin W. Howard, mengajar adalah suatu aktivitas untuk memberi, menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan ideal (cita-cita).[2]
Menurut Warni Rasyidin mengemukakan bahwa mengajar adalah keterlibatan guru dan siswa dalam interaksi proses belajar mengajar. Guru sebagai koordinator menyusun, mengorganisasi dan mengatur situasi belajar.[3]
Menurut AG. Soejono mengajar adalah usaha guru memimpin muridnya perubahan situasi dalam arti kemajuan dalam proses perkembangan intelek pada khususnya dan proses perkembangan jiwa, sikap, pribadi serta keterampilan pada umumnya.[4]
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mengajar adalah usaha yang dilaksanakan oleh guru melalui bahan pengajaran yang diarahkan kepada siswa agar dapat membawa perubahan baik kognitif, afektif maupun psikomotorik.
Keterampilan mengajar adalah kecakapan atau kemampuan guru dalam menyajikan materi pelajaran. Dengan demikian seorang guru harus mempunyai persiapan mengajar antara lain, guru harus menguasai bahan pengajaran mampu memilih metode yang tepat dan penguasaan kelas yang baik.
Keterampilan mengajar sangat penting dimiliki oleh seorang guru sebab guru memegang peranan penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu guru harus memiliki berbagai keterampilan menagajar antara lain:
1.    Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya adalah merupakan keterampilan yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar, karena metode apapun, tujuan pengajaran apapun yang ingin dicapai dan bagaimana keadaan siswa yang dihadapi, maka bertanya kepada siswa merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan. Karena pertanyaan yang diajukan kepada siswa agar berpengaruh tidaklah mudah. Memberi pertanyaan perlu adanya latihan dari guru-guru. Sehingga diharapkan guru dapat menguasai dan melaksanakan keterampilan bertanya pada situasi yang tepat, sebab memberi pertanyaan secara efektif dan efisien akan dapat menimbulkan perubahan tingkah laku baik pada guru maupun dari siswa. Dari guru yang sebelumnya selalu aktif memberi informasi akan berubah menjadi banyak mengundang interaksi siswa, sedangkan dari siswa yang sebelumnya secara pasif mendegarkan keterangan guru akan berubah menjadi banyak berpartisipasi dalam bertanya, menjawab pertanyaan mengemukakan pendapat. Hal ini akan menimbulkan adanya cara belajar siswa aktif yang berkadar tinggi. Untuk lebih memudahkan guru dalam menggunakan keterampilan bertanya hendaknya seorang guru mengetahui kegunaan dari penggunaan keterampilan bertanya.[5]
Adapun kegunaan dari penggunaan keterampilan bertanya adalah :
  1. Akan dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap pokok bahasa yang akan dibahas.
  2. Dapat memusatkan perhatian siswa terhadap pokok bahasan
  3. Dapat mengembangkan keaktifan dan berfikir siswa
  4. Dapat mendorong siswa untuk dapat menggunakan pandangan-pandangan yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas
  5. Sebagai umpan balik bagi guru untuk mengetahui sejauhmana prestasi belajar siswa selama proses belajar mengajar
  6. Dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam menemukan, mengorganisir dan memberi informasi yang pernah didapat sebelumnya. Proposal Skripsi Bahasa Inggris
2.    Keterampilan Memberi Penguatan
Yang dimaksud dengan keterampilan memberi penguatan adalah respon positif dari guru kepada anak didik yang telah melakukan suatu perbuatan baik. Pemberian penguatan ini dilakukan oleh guru dengan tujuan agar anak lebih giat berpartisiasi dalam interaksi belajar mengajar dan siswa agar mengulangi lagi perbuatan yang baik walaupun pemberian penguatan sangat mudah pelaksanaannya, namun kadang-kadang banyak diantara guru yang tidak melakukan pemberian penguatan kepada muridnya yang melakukan perbuatan baik.
Pemberian penguatan dalam proses belajar mengajar mempunyai beberapa tujuan dan manfaat apabila dapat dilakukan dengan tepat antara lain:
  1. Dapat meningkatkan perhatian dan motivasi siswa terhadap materi
  2. Dapat mendorong siswa untuk berbuat baik dan produktif
  3. Dapat menumbuhkan rasa kepercayaan diri siswa itu sendiri
  4. Dapat meningkatkan cara belajar siswa aktif
  5. Dapat mendorong siswa untuk eningkatkan belajarnya secara mandiri.
Walaupun pemberian penguatan sifatnya sederhana dalam pelaksanaannya, namun dapat pula pemberian penguatan yang diberikan kepada siswa justru membuat siswa enggan belajar karena penguatan yang diberikan tidak sesuai dengan tindakan yang dilakukan siswa tersebut, pemberian penguatan yang berlebihan akan berakibat fatal. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam pemberian penguatan antara lain:
a.   Hangat dan Antusias
Guru dalam memberikan penguatan kepada siswa hendaknya menunjukkan sifat yang baik, menarik dan juga sungguh-sungguh sehingga siswa merasa senang dengan sikap guru di waktu memberi penguatan. Dalam pemberian penguatan diharapkan guru menunjukkan ekspresi wajah yang menarik, sinar mata yang sejuk, suara yang jelas dan enak didengar.
b.   Bermakna
Pemberian penguatan hendaknya disesuaikan dengan tingkat pencapaian keberhasilan siswa dan mempunyai arti bagi siswa yang melakukan perbuatan itu sehingga penguatan dapat diterima siswa dengan senang hati.
c.   Hindari Penggunaan Penguatan Negatif
Walaupun pemberian kritik atau hukuman adalah efektif untuk dapat mengubah motivasi, penampilan dan tingkah laku siswa, namun pemberian itu memiliki akibat yang sangat kompleks, dan secara psikologis agak kontraversial, karena itu sebaiknya dihindari banyak akibat yang muncul yang tidak dikehendaki misalnya siswa menjadi frustasi, pemberani, hukuman dianggap sebagai kebanggaan, dan peristiwa akan terulang kembali.
d.   Penggunaan Bervariasi
Pemberian penguatan seharusnya diberikan secara bervariasi baik komponennya maupun caranya dan diberikan secara hangat dan antusias. Penggunaan cara dan jenis komponen yang sama misalnya guru selalu menggunakan kata-kata “bagus” akan mengurangi efektivitas pemberian penguatan. Pemberian penguatan juga akan bermanfaat bila arah pemberiannya bervariasi, mula-mula keseluruhan anggota kelas, kemudian kelompok kecil, akhirnya keindividu, atau sebaliknya tidak berurutan.
3.    Keterampilan Memberi Variasi
Pemberian variasi dalam interaksi belajar mengajar dapat diartikan sebagai perbuatan pengajaran dari yang satu ke yang lain, dengan tujuan untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan siswa dalam menerima bahan pelajaran yang diberikan guru sehingga siswa dapat aktif lagi dan berpartisipasi dalam belajarnya.
Keterampilan variasi yang tepat dalam proses belajar mengajar akan dapat memberi manfaat bagi siswa antara lain:
  1. Dapat menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa terhadap materi yang diberikan kepadanya.
  2. Dapat memberi motivasi kepada siswa untuk memusatkan perhatiannya pada proses belajar mengajar.
  3. Dapat menghindari kebosanan siswa dalam belajar.
  4. Dapat mendorong anak untuk mengadakan diskusi dengan temannya.
Ada tiga aspek dalam keterampilan memberi variasi yang harus dikuasai guru dalam proses belajar mengajar yaitu:
1.   Variasi dan Gaya Mengajar
Agar tidak terjadi kebosanan anak dalam belajar maka guru dapat melakukan variasi dalam gaya mengajar yang mana dalam memberi gaya mengajar ini guru dapat melakukan dengan cara variasi suara, penekanan, kontak pandang, gerakan anggota badan dan pindah posisi.
2.   Variasi Media dan Bahan Ajaran
Tiap anak didik memiliki kemampuan indra yang tidak sama baik pendengaran maupun penglihatannya demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih senang membaca, ada yang lebih senang mendengarkan, ada yang suka mendengarkan dulu baru membaca dan sebaliknya. Dengan variasi penggunaan media, kelemahan indra yang dimiliki tiap anak didik dapat dikurangi. Untuk menarik perhatian anak didik misalnya, guru dapat memulai berbicara lebih dulu, kemudian menulis dipapan tulis dilanjutkan dengan melihat contoh kongkrit. Dengan variasi seperti itu dapat memberi stimulus terhadap indra anak didik.
Ada tiga variasi penggunaan media yakni:
1.   Media Pandang
Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggunaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi, seperti buku, majalah, globe, majalah dinding, film, film Strip, TV, recorder, gambar grafik, dan lain-lain.
2.   Variasi Media Dengar
Media dengar yang dapat dipakai adalah pembicaraan anak didik, rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman drama, wawancara yang semuanya itu dapat memiliki relevansi dengan pelajaran.
3.   Variasi Media Taktil
Variasi media taktil adalah penggunaan media yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajaran.[6]
4. Variasi interaksi
Variasi dalam pola interaksi antara guru dengan anak didik memiliki rentangan yang bergerak dari dua kutub, yaitu:
  • Anak didik bekerja atau belajar secara bebas tanpa campur tangan dari guru.
  • Anak didik mendengarkan dengan pasif. Situasi didominasi oleh guru dimana guru berbicara kepada anak didik.
Diantara dua kutub itu banyak kemungkinan dapat terjadi. Misalnya, guru berbicara dengan sekolompok kecil anak didik melalui pengajuan beberapa pertanyaan atau guru berbincang dengan anak didik secara individual, atau guru menciptakan situasi sedemikian rupa sehingga antar anak didik dapat saling tukar pendapat melalui penampilan diri, demonstrasi, atau diskusi.
4.  Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka adalah perbuatan guru untuk menciptakan siap mental dan menimbulkan perhatian anak didik agar terpusat pada yang akan dipelajari. Sedangkan menutup pelajaran adalah mengakhiri kegiatan inti pelajaran-pelajaran.[7]
Komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran meliputi meningkatkan perhatian, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, membuat kaitan atau hubungan diantara materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dikuasai anak didik, review atau meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti  pelajaran den membuat ringkasan dan mengevaluasi.
Siasat membuka pelajaran bertujuan pokok menyiapkan mental anak didik agar siap memasuki persoalan yang akan dipelajari atau dibicarakan, menimbulkan minat serta pemusatan perhatian pada anak didik yang akan dibicarakan dalam kegiatan interaksi edukatif.
Ketika menutup pelajaran, kegiatan yang dilakukan guru adalah mengakhiri pelajaran atau mengakhiri kegiatan interaksi edukatif. Usaha menutup pelajaran dimaksudkan untuk memberi gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari anak didik, mengetahui tingkat pencapaian anak didik dan tingkat keberhasilan guru dalam proses interaksi edukatif. Proposal Skripsi Bahasa Inggris
5.    Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses interaksi edukatif dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses interaksi edukatif. Termasuk dalam hal ini adalah penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas anak didik, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.
6.    Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Yang dimaksud dengan diskusi kelompok kecil di sini adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok individu dalam suatu interaksi tatap muka secara kooperatif untuk tujuan membagi informasi, membuat keputusan, dan memecahkan masalah
Keterampilan membimbing diskusi memilih kelebihan dan keterbatasan antara lain :
  1. Kelebihannya
    • Kelompok memiliki sumber daya yang lebih banyak daripada individu. Pengetahuan dan pengalaman sekelompok orang yang jelas lebih banyak dari pengetahuan dan pengalaman seseorang.
    • Anggota kelompok sering diberi masukan dan motivasi dari anggota lain, yang berusaha agar sumbangan pikiran bermanfaat untuk keberprestasian kelompok.
    • Kelompok dapat mengprestasikan keputusan yang lebih baik
    • Anggota kelompok memiliki ikatan yang kuat terhadap keputusan yang diambil dengan melalui keterklibatannya dalam diskusi.
    • Partisipasi dalam diskusi akan meningkatkan saling pengertian antar individu dalam satu kelompok dan dalam kelompok yang lain.
    2. Keterbatasan
    • Diskusi memakan waktu
    • Pemborosan waktu
    • Diskusi dapat menekan pendirian
6.      Keterampilan menjelaskan
Keterampilan menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan salah satu aspek yang amat penting dari kegiatan guru dalam berinteraksi dengan siswa didalam kelas.
Tujuan memberikan penjelasan antara lain:
  1.  Membimbing murid untuk mendapat dan memahami hukum, fakta, definisi dan prinsip secara obyektif.
  2.  Melibatkan murid untuk berfikir dengan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan
  3. Untuk mendapat balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalapahaman mereka.
  4. Membimbing murid untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti- bukti dalam pemecahan masalah.10
b.   Pengertian Prestasi Belajar
Pengertian belajar adalah terdiri dari dua kata, yakni “prestasi” dan “belajar” antara prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Oleh karena itu prestasi dibahas jauh maka terlebih dahulu penulis akan menjelaskan pengertian prestasi.
Prestasi adalah prestasi dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok.11
W.J.S Poerwadarminta berpendapat bahwa “prestasi” adalah prestasi yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Sedangkan menurut Mas’ud Khasan Abdul Qoha “prestasi” adalah apa yang telah diciptakan, prestasi pekerjaan, prestasi yang mnyenangkan hait yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Sementara Nasru Harahap dan kawan-kawannya memberikan batasan bahwa “prestasi” adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum. 12
Dari berbagai pengertian dikemukakan oleh para ahli di atas, jelas terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan namun intinya sama, yakni prestasi yang dicapai dari suatu kegiatan. untuk itu dapat dipahami bahwa prestasi adalah prestasi suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati dan diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individu maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan itu.
Belajar adalah suatu aktifitas yang sadar akan tujuan. Tujuan dalam belajar adalah tercapainya suatu perubahan dalam diri individu. Perubahan dalam menuju perkembangan pribadi individu seutuhnya. Namun, untuk memperoleh penjelasan yang lebih terarah penulis akan menjelaskan berbagai pendapat tentang belajar. Proposal Skripsi Bahasa Inggris
Menurut Abdurrahman, mengatakan bahwa :
“Belajar adalah suatu perubahan pada diri individu dengan lingkungannya yang menjadikannya mendapat kemampuan yang lebih tinggi  untuk hidup secara damai dalam lingkungannya13
Menurut M. Ngalim Purwanto, mengatakan bahwa
“Belajar adalah tingkah laku yang mengalami perubahan, karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian pemecahan masalah/berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan,ataupun sikap”.14
Setelah kita mengetahui dan memahami pengertian diatas, maka dapat dipahami kata “prestasi” dan “belajar” prestasi pada dasarnya prestasi yang diperoleh dari suatu aktivitas, sedangkan belajar pada dasarnya adalah proses yang mengakibatkan perubahan pada diri individu yaitu perubahan tingkah laku. Dengan demikian dapat diambil pengertian yang sangat sederhana mengenai hal ini. Prestasi belajar adalah prestasi yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai prestasi dari aktivitas dalam belajar. Prestasi belajar mahasiswa yang diperoleh itu melalui suatu proses yang dinamakan usaha, keuletan untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.
c.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar itu tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental) akan tetapi dapat pula dipengaruhi oleh faktor-faktor non intelegensi, karena itu IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberprestasian prestasi belajar siswa. Oleh karena itu perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar siswa yang dapat mengakibatkan prestasi belajar siswa menurun.
Prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan prestasi interaksi dari berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan dua golongan yaitu:
Faktor internal adalah segala sesuatu yang bersumber dari dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi lainnya sehingga siswa dapat belajar Adapun faktor-faktor yang tercakup di dalamnya yaitu:
 Faktor Jasmani (Fisiologis)
Faktor jasmani yaitu segala bentuk tubuh secara lahiriah dapat dilihat oleh mata, baik yang bersifat bawaan seperti penglihatan, pendengaran dan sebagainya.
Faktor Psikologis
Faktor fsikologis adalah faktor yang berhubungan dengan keadaan rohani siswa yang termasuk didalamnya adalah intelegensi, perhatian, minat, bakat dan emosi. Semuanya itu mempunyai peranan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Faktor Kematangan Fisik dan Psikis
Faktor kematangan fisik dan psikis ini maksudnya adalah seseorang yang mengalami perkembangan fisik dalam arti bahwa kematangan fisik seseorang harus seimbang dengan perkembangan psikisnya.
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berpengaruh dari luar diri seseorang. Adapun faktor-faktor yang tercakup didalamnya adalah sebagai berikut:
1.  Faktor Sosial
Faktor sosial yakni faktor yang disebabkan dari lingkunagn masyarakat, pengaruh ini terjadi karena keberadaannya ditengah tengah masyarakat. Dimana lingkungan itu berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar siswa
2. Faktor Lingkungan Fisik
Faktor lingkungan fisik itu bukan hanya berupa material atau benda tetapi dapat berupa kondisi iklim, dalam artian bahwa apabila kondisi dimana anak itu belajar tidak cocok, sehingga menimbulkan anak itu tidak merasa tenang dalam belajar, sehingga prestasinya menurun.
3. Faktor Budaya
Faktor budaya ini terbagi dalam beberapa faktor diantaranya adalah faktor ilmu pengetahuan, kesenian, adat istiadat. Apabila kesemuanya ini semua tidak sesuai dengan pemahaman dan pengetahuan siswa, maka akan mengalami hambatan dalam belajar
G.  Metodologi Penelitian
a.  Populasi dan Sampel
Dalam suatu penelitian yakni pada obyeknya biasanya berhadapan dengan masalah yang biasa disebut dengan istilah populasi. Hal ini merupakan yang sangat penting, karena hubungan dengan penentuan sumber data yang akan diteliti. Demikian pula dengan sampel, yang merupakan bagian dari populasi, mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dengan populasi.
Adapun yang menyangkut populasi dan sampel. Penulis akan menjelaskan sebagai berikut:
1.   Populasi
Suharsimi Arikunto bahwa populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Ini berarti bahwa apabila seseorang ingin meneliti semua elemen atau unsur yang ada didalam wilayah atau lokasi penelitian, maka penelitian yang ia lakukan adalah penelitian populasi.15
Sedangkan Nana Sudjana mengemukakan pengertian bahwa populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin prestasi tertentu mengenai kumpulan obyek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.16
Kemudian pengertian populasi menurut Sutrisno Hadi, dijelaskan bahwa populasi adalah semua individu untuk setiap kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel.17
Amirman Yousda mendefinisikan populasi sebagai keseluruhan obyek yang diteliti, baik berupa orang, benda, kejadian maupun hal-hal yang terjadi.18
Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan obyek yang terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, nilai tes dan peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik dan spesifikasi tertentu didalam suatu penelitian
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas III Madrasah Tsanawiyah IMMIM Putra Makassar yang berjumlah 172 siswa yang terdiri dari kelas IIIa sebanyak 34 siswa, kelas IIIb sebanyak 31 siswa, kelas IIIc sebanyak 37 siswa, dan kelas IIId sebanyak 35 orang dan IIIe sebanyak 35 siswa.
Untuk lebih jelasnya keadaan populasi dapat dilihat pada tabel populasi berikut ini.
Tabel I
Keadaan populasi siswa Madrasah Tsanawiyah IMMIM Putra
No
Kelas
Siswa
1.
IIIA
34
2.
IIIB
31
3.
IIIC
37
4.
IIID
35
5.
IIIE
35

Jumlah
172
2.   Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat umum populasi atau dengan kata lain sampel adalah sekelompok individu atau benda yang lebih kecil jumlah populasi yang ada dan juga dapat dikatakan bahwa sampel adalah wakil dari populasi. Dalam hal ini, Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa sampel adalah bagian atau wakil populasi yang diteliti. Digunakan penelitian sampel apabila bermaksud untuk menggeneralisasikan prestasi penelitian sampel. 19
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik Random Sampling yakni cara pengambilan sampel yang semua anggota populasi diberi kesempatan untuk dipilih menjadi sampel.20
Lebih khusus lagi penelitian ini menggunakan teknik proporsional random sampling yaitu pengambilan Sampel atas besarnya populasi. Dalam hal ini penulis mengambil sampel sebesar 43 siswa atau 25 % dari jumlah populasi 172. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto yang mengemukakan bahwa:
“Apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjek lebih besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25% atau lebih.21
b. Metode Pengumpulan Data
a. Penelitian Kepustakaan (Library rescarch) yaitu suatu metode yang digunakan penulis dengan jalan memperbanyak membaca buku-buku yang relevan dengan pembahasan skripsi ini kemudian penulis:
1. Mengutip secara langsung, yaitu dengan mengutip pendapat para ahli dari berbagai sumber yang diambil sesuai dengan naskah aslinya dan tanpa merubah redaksinya. Proposal Skripsi Bahasa Inggris
2. Mengutip secara tidak langsung yaitu mengutip berbagai sumber yang ada kaitannya dengan pembahasan skripsi ini baik dalam bentuk ikhtiar maupun dalam bentuk ulasan sehingga berbeda dengan naskah atau sumber aslinya, namun maksud dan tujuannya sama.
b.  Penelitian Lapangan ( Field recearch) yaitu cara pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dilapangan atau ditempat penelitian dengan menggunakan teknik:
  1. Koesioner yaitu penulis mengumpulkan data yang ada hubungannya dengan pembahasan skripsi ini dengan mengajukan pertanyaan kepada responden.
  2. Angket yaitu daftar pertanyaan yang berisi rangkaian pertanyaan tentang hal-hal yang berkaitan keterampilan mengajar dan faktor
  3. Dokumentasi yaitu cara pemgumpulan data dengan cara mencatat dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pembahasa skripsi ini.
c. Instrumen Penelitian
Berprestasi tidaknya penelitian yang dilakukan banyak ditentukan oleh instrumen penelitian yang digunakan. Instrumen adalah alat untuk memperoleh data, instrumen adalah alat pemgumpul data yang pada hakikatnya mengukur variabel penelitian.
Adapun jenis insrumen yang penulis gunakan dalam penelitian ini, yaitu:
  1. Angket adalah daftar pertanyaan yang berisi rangkaian pertanyaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan mengajar guru dan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa.
  2. Wawancara yakni dimaksudkan untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui percakapan dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada peneliti.
  3. Dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan mencatat segala data-data dokumentasi tersebut yang ada dengan penelitian.
d. Teknik Analisis Data
  1. Analisis kualitatif yaitu analisis data yang dijabarkan melalui pengamatan yang tidak berupa angka-angka.22 Maksudnya adalah dilakukan dengan cara menguraikan dalam bentuk kalimat kemudian direlevansikan dengan rujukan teori yang mendukung.
  2. Analisis kuantitatif yaitu analisis terhadap data yang berupa angka-angka dengan cara menggunakan statistik yang relevan dalam bentuk persentase. Maka rumus yang digunakan adalah :
P = F/N x 100%
Keterangan :
  P    =  Persentase (%)
  F    =  Frekuensi atau kategori jabatan
  N   =  Number (Jumlah Frekuensi/individu)23
Dengan demikian, metode analisis data yang dipergunakan dalam skripsi ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif, yaitu sumber dari hasil angket, interview, observasi dan dokumentasi, guna memperoleh suatu kesimpulan yang betul-betul akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.
KOMPOSISI BAB SKRIPSI
BAB    I  PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Hipotesis
  4. Pengertian Judul
  5. Tujuan dan Kegunaan
  6. Garis-garis Besar isi
BAB  II TINJAUAN PUSTAKA
  1. Pengertian Keterampilan Mengajar Guru
  2. Pengertian Prestasi Belajar
  3. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
BAB  III  METODOLOGI PENELITIAN.
  1. Populasi dan Sampel.
  2. Metode Pengumpulan Data
  3. Instrumen Pengumpulan Data
  4. Teknik Analisis Data
BAB  IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  1. Selayang Pandang Pesantren IMMIM Putra Makassar
  2. Keterampilan Mengajar Guru di Pesantren IMMIM Putra Makassar
  3. Prestasi Belajar Siswa di Pesantren IMMIM Putra Makassar
  4. Pengaruh Keterampilan Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa di Pesantren IMMIM Putra Makassar
BAB  V PENUTUP
  1. Kesimpulan
  2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN- LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi,Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Cet.XII. Jakarta.PT. Rineka Cipta.1998
Abdurrahman, Pengelolaan Pengajaran. Cet.VI. Ujung Pandang.Bintang Selatan:1994
Bahri Djamarah Syaiful, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.Jakarta.PT Rineka Cipta.1997
______________ Prestasi Belajar Dan Kompotensi Guru.Surabaya.PT Usaha Nasional.1994
Hadi Sutrisno, Metodologi Research. Cet.XXI.Yogyakarta.Andi ofset.1990
Mustamin, Psikologi Pendidikan, Diktat.1996
Nurkaranca Wayan, Evaluasi Hasil Belajar.Surabaya,Usaha Nasional.1992
Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Bahasa Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet III: Jakarta. Balai Pustaka. 1990
Porwadarmita. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta. Balai Pustaka.1976
Purwanto Ngalim, Psikologi Pendidikan. Cet;V Bandung. Remaja Rosdakarya. 1990
Rowstiyah, Masalah Ilmu Keguruan. Cet III. Jakarta.Bina Aksara. 1989
Soetomo, Dasar- dasar Interaksi Belajar Mengajar. Cet I. Surabaya. Usaha Nasional. 1993
Sudjana Nana, Metode Statistik.Cet III. Bandung. Persit. 1984
Sugiono, Metode Penelitian Admenistrasi. Cet XI. Bandung. CV Alfabeta. 2005
Uzer Usman Moh, Menjadi Guru Profesional.Cet I. Bandung PT Remaja Rosdakarya. 1995

1Penyusun kamus pusat pembinaan Bahasa Kamus Besar Bahasa Indonesia  (cet III.jakarta Balai pustaka. 1990). Hal. 664.
2Wayan Nurkaranca. Evaluasi Hasil Belajar (Surabaya Indonesia Usaha Nasional. 1992).h.23
[1] W.J.S. Poerwadarminta  Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka. 1976), Hal. 188.
[2] Roestiyah. N.K. Masalah Ilmu Keguruan (Cet III. Jakarta: Bina Aksara. 1989).Hal.15.
[3] Drs. Abdurrahman. Pengelolaan pengajaran. Cet.VI. Ujung Pandang. Bintang Selatan. 1994)Hal.15
[4] Drs Mustamin, Psikologi Pendidikan, Diktat 1996).Hal.246-247.
[5]Soetomo. Dasar-Dasar Interaksi Belajar Mengajar. Cet.1 Surabaya. Usaha Nasional. 1993.Hal.178)
[6] Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan Anak Didik Interaksi Edukatif (PT Rineka Cipta. Jakarta 1997) Hal. 129
[7]  Ibid.Hal. 139
10 Drs. Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional. PT Remaja Rosdakarya.1995)            hal  88-89
11 Drs Syaiful Bakri Djamarah. Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru. Surabaya: PT Usaha Nasional. 1994 ) hal 19
12 Ibid hal 20-21
13 Drs. H. Abdurrahman. Pengelolaan Pengajaran. Cet.V.Bandung: Remaja Rosdakarya. 1990) hal 84
14 M. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan, Cet V.Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990) hal 84
15 Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik ( Cet.XII .Jakarta : PT Rineka Cipta.1998) hal 108
16 Nana Sujana. Metode Statistik ( Cet.III. Bandung  Persit.1984) hal 3
17 Sutrisno Hadi. Metodologi Researc ( Cet.XXX. Yogyakarta. Andi Ofsit.1990) hal 70
18 Airman Yausda. Penelitian Dan Statistik Pendidikan ( Cet I. Jakarta.Bumi Aksara.1993) hal 134
19 Suharsimi Arikunto op.cit.hal 117
20 Cholid Narbuko. Metodologi Penelitian. ( Cet.III: Bumi Aksara.2001) hal 114
21 Ibid
22Dr. Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Cet, II; Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2001), h.195.
23Anas Sudjono, Pengantar Statistik Pendidikan (Cet, V; Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1994), h.80. Proposal Skripsi Bahasa Inggris

Daftar Blog Saya

 

Selamat Datang Di ERICKVAND BLOG

Selamat datang di Blog saya, semoga saja kalian bisa mendapatkan apa yang kalian butuhkan diblog saya ini. Terima kasih Telah Berkunjung Di Blog saya,apabila berkenan silahkan berkomentar dan follow blog saya,mari kita saling berbagi ilmu tentang apa saja...

Sekilas tentang penulis

Nama saya Erickvand Tampilang,saya seorang Mahsiswa S1 pendidikan Biologi Diuniversitas Negeri Gorontalo.

Erick